Pengalaman ibu beranak 3

Capek? Lelah? Gak sabaran? Sering marah? Emosian? Stressfull? No me-time? Lack of support system? Play victim? So much to do so little time?

Which one are you? Or all is yours?

Mau punya anak 1 atau 2 atau 3 atau lebih dari 3, semua ada challengenya.. mau beda usia dekat atau beda jauh masing2 ada karakternya… Punya anak di usia muda atau usia lanjut pasti ada tantangannya..

Bukan seberapa banyaknya, bukan seberapa jaraknya, bukan seberapa usianya. Apakah kamu working mom atau stay at home mom itu beda lagi ceritanya..

Pertanyaannya..

Siap nggak kamu jadi seorang ibu?

Sudah cukupkah “bekal”mu untuk jadi seorang ibu?

Siap nggak kamu jadi panutan untuk dirimu, pasanganmu dan darah dagingmu?

Siap nggak kamu memberikan yang TERbaik untuk anak2mu? TERbaik menurut siapa?

Hamil di usia lanjut di masa pandemi ternyata bukan jaminan bahwa hidup saya sudah settled justru makin banyak yang harus dibenahi di diri saya. Makin tambah usia, cuma menang di pengalaman hidup aja kok but still I never stop learning. More in spiritual journey..

Makin banyak anak, makin banyak rejeki? Alhamdulillah, at least rejeki lebih banyak waktu di masa pandemi untuk “quality time” sama keluarga. Juggling in between WFH and WFO, SFH for 2 kids, breastfeeding for baby dan doing housechores at the same time itu gilasih. Bener-bener teroret jungkir balik. Tangan jadi kaki, kaki jadi tangan. Otak udah berserakan entah kemana.

Mandi buru2 karena (seperti) dengar si bungsu nangis, sholat buru2 karena si tengah minta digorengin nugget, menyusui buru2 karena si sulung minta dibantu bikin PR… sudah biasaaaa…

Pernah ada ilmu parenting yang bilang it take a village to raise a child yang pada prinsipnya bukan hanya ibu atau bapak saja yang berperan mendidik anak tapi juga lingkungan baik inner circle di keluarga, support system maupun lingkungan luar. Beruntungnya saya masih dibantu sama babysitter yg setia sejak mas B lahir dan ART PP. Peran eyang hanya sebagian keciiil karena faktor usia yg nggak memungkinkan untuk di”titip”kan cucu.

Pernah juga saya dengar kalimat Didiklah anak2mu untuk kelak siap menjadi seorang ibu/ayah.. berat ya sis, karena kenyataannya emang gak ada sekolah buat jadi ibu.. Seorang ibu pun belum tentu bisa memberikan ilmu menjadi ibu… it is a lifetime learning journey.. learning by doing and not doing the same mistakes… ini yang sedang saya jalani…

Satu hal yang sekarang sering saya lakukan adalah tidak pernah malu/gengsi untuk meminta maaf sama anak ketika saya marah atau berkata keras sama anak2 walaupun mereka melakukan kesalahan. Pada prinsipnya saya nggak mau membawa/memendam rasa penyesalan terhadap diri sendiri di kemudian hari dan membawa efek negatif ke anak2. Mereka harus tau alasan/maksud kenapa tadi ibunya marah. Even on Lebaran day kemarin, saya yang minta maaf ke anak2. We’ll never know usia kita sampai kapan, hanya Tuhan yang tau.

Pernah merasa menjadi seorang ibu yang gagal? Saya hampir setiap hari.

Satu hal yang pasti jangan pernah berhenti berdoa untuk kesehatan, keselamatan, kebahagiaan lahir batin, kesuksesan, keamanan, kelancaran dan kemudahan hidup bagi anak2 dan selalu bersyukur sekecil apapun nikmat dan berkah yang diterima untuk saya dan keluarga.. aamiin yra..

Gusti Allah mboten sare.

2 thoughts on “Pengalaman ibu beranak 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s