Welcoming our 3rd child

Alhamdulillah telah lahir anak ketiga kami dengan sehat, selamat, sempurna, laki-laki pada 12 Nov 2020.

Finally my long time 2020 secret is revealed.

Bagaimana rasanya hamil di masa pandemi???

Well, selama masa pandemi 8 bulan di rumah aja (literally), 8 bulan gak pernah bersosialisasi, 8 bulan hanya WFH +SFH + monthly doctor visit.
Pernah mengalami 3x kehamilan with high risk (2010 with mioma, 2015 with pre-eklampsia, 2017 etopic pregnancy) and 2020 hamil di usia rawan di masa pandemi membuat extra very carefull dan cenderung paranoid. Sempat juga berpikir bahwa amanah dan berkah ini dianggap sebagai musibah. Paringono ngapunten Ya Allah gusti.
.

Banyak teman, sahabat dan bahkan keluarga yg surprise dengan pengumuman kelahiran anak ke-3 saya, karena memang mereka sama sekali gak pernah ketemu kan, kecuali temen2 kantor yg bbrp bulan awal sy msh sempat bbrapa kali WFO. Pun kl saya posting di sosial media, IG / FB dengan permainan angle, kostum ciamik dan slightly editing banyak yg kecele dan komennya “kok hamil langsing? Kok gak kliatan hamil? Kapan hamilnya kok tau brojol?” Hahaha….

Terus terang hamil kali ini paling berat dibandingkan sebelumnya. Diawali dgn sakit asam lambung/gerd selama seminggu dan stressfull karena HP yg seharusnya akan dipakai utk SFH dan WFH tetiba lockdown dan gak bisa dibuka sama sekali. Sudah curiga kayaknya hamil lagi karena tanda2nya mirip dgn hamil sblmnya, asam lambung parah ditambah sensitif dgn bau2an terutama bau masakan dan bau dapur. Buru2 minta beliin tespack dan ternyata…. jeng jeng.. hasilnya positif (garis 2). Reaksi saya dan suami gimana?.. flat!!! Hahaha..

Trimester pertama mengalami hyperemesis sehingga BB turun drastis 7 kg within a month dan bertahan s.d bulan ke-4. Bulan ke-5 mulai bisa makan sedikiiiit dan berakhir di bulan ke-9 saat bisa makan gragas total weight gain 24 kg saja hahaha…

During pregnancy selain “lelah” secara fisik yg membuat hari2 cuma diisi dgn tiduran n goleran juga emotional, physiological n emotional crisis. Setiap hari marah2, ngedumel, ngomel2 dan end upnya nangis. Siapa korbannya? Siapa lagi kl bukan mas B dan mbak A. Huhuhu maafin ibu yaaa. Eits adik A udah bukan adik lagi looh, uda jadi mbak….

Beruntungnya di bln Sept, saya dapat dispensasi utk full time WFH utk ibu hamil walo ga efektif juga krn di rumah gak bisa kerja, but at least i can be slonjoran di rumah. Honestly bener2 ga bisa berpikir secara “waras”.

Kondisi ini jg diperparah dgn lingkungan yg lg ada proyek tetangga persis di blakang rumah yg mana polusi udara, debu dan suara mesin2 amat sangat mengganggu. Udara Jakarta yg lg panas2nya bikin hati jg tambah panas. Gak bisa pergi kemana2pun. Boro2 babymoon, wong liat matahari aja mual, semua gorden saya tutupin. Definisi “di rumah aja” itu bener2 secara harfiah didalam rumah aja, not even keluar teras (kecuali kl mau ke dokter). Wis koyo vampir. Everything is so d*mn wrong!!

Terus terang this pregnancy is so unpredictable…. hmm semua juga gt yaa… but i mean, dgn pengalaman dan melihat kondisi kesehatan masing2, saya & suami mmg gak pernah planning mau punya anak berapa atau kapan mau punya anak lagi, pun gak pake KB, laah wong wis podo tuweke jeee…. pasrah lillahi ta’ala.. kun fa ya kun… awal tahun berencana utk umroh di thn 2020 siapa sangka akan terjadi pandemi. Alhamdulillah ini saya anggap sbg jawaban atas doa saya dalam bentuk yg berbeda. Rejeki, amanah, keajaiban kehidupan dari Allah SWT berupa satu nyawa baru yg harus dipertanggungjawabkan kesehatannya dan keselamatannya selama 9 bulan di dalam rahim sama atau bahkan lbh besar pahalanya dibandingkan pahala umroh. Aamiin yra..

Sama dengan sebelumnya, kelahiran kali ini dilakukan secara SC dan setelah bayi lahir dilanjutkan dengan tubektomi.Demi alasan kesehatan, saya dan suami sepakat utk digembok permanen, semoga ini menjadi keputusan yg tepat, bismillah….

Sesuai protkes RS, sebelumnya saya dan suami Swab test dulu dan tdk diperbolehkan ada yg menjenguk. SC kali ini saya berhasil nitip HP ke suster jadi lumayan baru kali ini saya punya dokumentasi saat baby keluar dari perut ibu di ruang operasi. Alhamdulillah juga SC berjalan lancar walau awalnya dimulai dengan drama sulit menusukkan jarum infus ke tangan saya karena vena kecil. Diulang dengan beberapa suster dan bahkan dokter anestesi pun ikut turun tangan ampai 6 kali tusuk tangan kiri dan kanan baru berhasil. Tapi meninggalkan luka ungu lebam di salah satu tangan akibat bocor saat jarum ditusuk.

Banca’an/syukuran sego urap saat sePasaran – sesuai tradisi dan weton jawa usia bayi 5 hari

Mohon doanya semoga anak kami, sebut saja – baby K – selalu sehat walafiat, selamat, dapat menjadi anak sholeh, menjadi yg terbaik, berprestasi dan membanggakan keluarga serta memberikan kesejukan dan kedamaian dalam jiwa.

3 thoughts on “Welcoming our 3rd child

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s