Posted in Daily stories

Insight for tahlil 1000 hari Bapak

Hari minggu kemarin keluarga kami mengadakan tahlil untuk mengenang 1000 hari kepergian almarhum bapak. Tak terasa udah 3 tahun berlalu sejak saya posting tentang kepergian bapak. How time flies. It seems like he still around us.

Pengajian sederhana di rumah dihadiri keluarga yg ada di Jakarta. Rencananya 2 minggu lagi kami akan ke Solo untuk pasang kijing / nisan di makam alm. Bapak.

Temanya pengajian 1000 hari tapi kok pic.nya makanan? Just for a sweet memory. Selat Solo ini salah satu menu favorit bapak dan selalu ada di setiap acara keluarga di rumah bersama dengan stoop macaroni dan nasi liwet. Menu andalan!

Di pengajian kemarin kami mengundang ustadz untuk kasih sedikit ceramah setelah baca yasin. Ada beberapa insight yg menarik dari pak ustadz.

Ternyata jadi “anak sholeh” itu tanpa kita sadari lebih susah daripada jadi orangtua. Sama2 nggak ada sekolahnya. Bedanya jadi anak sholeh udah ada role modelnya, udah dikasih pendidikan dan pengasuhan yg mumpuni dr kecil tapi kita tetep nggak sadari itu. We’re too busy to be selfish.

Kalau selama ini saya selalu gembar gembor heboh sana sini cari tahu betapa jadi orangtua itu susah aka challenging dan nggak ada sekolahnya. Betapa jadi orangtua itu harus bisa multi tasking dan punya kesabaran yang tinggi. Betapa jadi orangtua itu harus bisa jadi role model untuk anaknya, harus bisa mengayomi, contoh tauladan endebrei endebei endebrei….

Tapi pernah nggak kita mencari tahu dan belajar bagaimana menjadi anak yg sholeh/hah, menjadi anak yg berbakti kepada kedua orangtua, menjadi anak yg merawat dan menjaga orangtua dikala mereka sudah sangat sepuh dan udah nggak bisa merawat diri mereka sendiri, di saat mereka akan kembali seperti anak2 lagi?

Tanpa kita sadari apapun akan kita lakukan demi anak. Kasih sayang kita ke anak beyond everything even mengalahkan rasa sayang kita kepada orangtua baik yg sudah tiada terlebih dgn yg masih hidup.

Di kala kita udah menikah dan punya anak, seringkali kita lupa dgn kehadiran ortu kita sendiri. We think they already grown up and can take care of their own especially when we already have separate lives.

Kita nggak pernah berpikir bahwa semakin tua kita maka akan kembali seperti anak2 lagi. Seperti juga ortu kita. Mereka ingin dapat perhatian lebih dari kita dan suasana guyub kekeluargaan sama seperti saat kita masih jadi anak balita buat mereka. Inget loh, berapapun tuanya umur kita, kita akan selalu menjadi anak ortu kita.

Buat para ibuk2 pasti akan melakukan segala sesuatu utk anak. Setiap kali anak kita yg balita poop di depan kita saat kita lagi makan pasti naturally kita akan berhenti makan, ‘beresin’ dan bersihin anak dulu dan lanjut makan lagi. But what if it happens to our own parents whose already sepuh dan nggak bisa merawat dirinya sendiri. Will you do it the same way too?

Sekarang ini lagi masanya orang berbondong dtg ke mesjid dan ke pengajian dan rela antri ketemu ulama / ustadz / kyai atau ketwmu presiden / kepala negara utk mencium tangannya. Apalah artinya mencium tangan ustadz/presiden yg notabene bukan keluarga kalau belum mencium tangan ibu utk meminta restu dan ijin keluar rumah utk berkegiatan atau menelpon ibu untuk sekedar menanyakan kabarnya?

Doa untuk kedua orangtua juga nggak kalah penting. Doa kepada orangtua harus dipanjatkan setiap saat di saat sholat dan dimanapun. Tapi apakah dengan doa aja udah cukup? Apakah doa yg dipanjatkan sama sensasinya dgn sentuhan lembut anak di saat memijat tubuh ibu atau kenikmatan di saat suapan bubur masuk ke mulut ibu?

Bener nggak sih apa yg anak lakukan di saat dewasa nanti adalah refleksi bagaimana orangtuanya mendidik mereka di saat anak2 dulu? Saya sih nggak mau jadi Malin Kundang dan saya juga nggak tau apakah kita boleh menyalahkan ortu kita sendiri?

Dunia itu keras jendral dan saya yakin di luar sana banyak anak2 yg nggak dapat kasih sayang, perhatian dan pendidikan yg layak dr ortunya. Saya nggak bisa ngebayangin akan jadi seperti apa di saat merek besar nanti. Kembali ke refleksi diri kita sendiri aja dulu gimana?

Saya sih makjleb!

So untuk temen2 yg masih punya ortu lengkap, call them, hug them and kiss them selama dan sesering yg kamu bisa. Waktu itu cepet banget berlalu dan nggak bisa diputar kembali. Manage your time to meet them, to communicate with them and always pray for them.

Sayapun wis tuwek gini masih berusaha jadi anak sholeh dan berbakti buat kedua ortu saya.

Untuk teman2 yg sudah ditinggal orangtua yuk sama2 mendoakan almarhum bapak / ibu kita. Insya Allah doa anak yg sholeh nggak akan pernah putus untuk amalan dan bakti kepada ortu kita.

اَللهُمَّ اغْفِرْلِىْ ذُنُوْبِىْ وَلِوَالِدَىَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِىْ صَغِيْرًا. وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، َاْلاَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، وَتَابِعْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ بِالْخَيْرَاتِ، رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُالرَّاحِمِيْنَ، وَلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ اِلاَّبِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

 

ALLAAHUMMAGHFIRLII DZUNUUBII WALIWAALIDAYYA WARHAMHUMAA KAMAA ROBBAYAANII SHOGHIIRON. WALIJAMII’IL MUSLIMIINA WALMUSLIMAATI, WALMU’MINIINA WAL MU’MINAATI AL AHYAA’I MINHUM WAL AMWAATI, WATAABI’ BAINANAA WA BAINAHUM BIL KHOIRAATI, ROBBIGHFIR WARHAM WA ANNTA KHOIRUR RAAHIMIINA, WALAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAHIL ‘ALIYYIL ADHIIMI.

 Artinya :

Ya Allah, berikanlah ampunan kepadaku atas dosa-dosaku dan dosa-dosa kedua orang tuaku, dan kasihanilah keduanya itu sebagaimana beliau berdua merawatku ketika aku masih kecil, begitu juga kepada seluruh kaum muslimin dan muslimat, semua orang yang beriman, laki-laki maupun perempuan yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia, dan ikutkanlah diantara kami dan mereka dengan kebaikan. Ya Allah, berilah ampun dan belas kasihanilah karena Engkaulah Tuhan yang lebih berbelas kasih dan tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan-Mu.

Save

Advertisements

Author:

i'm an ordinary mom & wife with ultraordinary love..

4 thoughts on “Insight for tahlil 1000 hari Bapak

  1. “Doa anak sholeh”…nah ini nih yang seringkali jadi motivasi untuk memantaskan diri jadi anak sholehah khususnya agar doa buat ortu yang sudah meninggal dunia bisa sampai, walaupun kenyataannya kadang khilaf, hiks.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s