No Internet for Kids!

 

Bedain antara belajar komputer dengan belajar internet. Anak bisa belajar komputer dan belajar melalui komputer tanpa terkoneksi dengan internet.

Internet bukan diciptakan untuk anak-anak. Internet nggak aman untuk konsumsi anak-anak, kalau mau aman ya jangan kasih internet.

WELL SAID!!

Yuk, cuss pulang. Sigh, baru dateng udah baper.

Kira-kira begitu sih teaser dari acara yang saya datengin hari Sabtu yang lalu. Sengaja saya ikut acara ini karena pengen tau seluk beluk internet yang aman untuk anak-anak dari kacamata pakar teknologi. Biasanya selama ini kan dengernya dari psikolog/pemerhati anak dan dari perspektif parenting yang sukanya bikin baper. Eeeeh ternyata pakar IT-nya bikin tambah baper. Sigh.

Tapi emang semua itu bener. Nggak ada internet yang aman untuk anak!

Saat acara ini saya juga ajak mas B yang sambil nungguin ibunya sambil main Ipad sama Migu @siska_knoch dan Dudu @datewithdudu

Saya (terutama suami) tergolong orang tua yang ngebebasin anak mau berkegiatan apapun juga di rumah, lah wong masih balita. No boundaries, No limitation, No parental lock, as long as they are safe. Tapi mau sampai kapan? Yakin mereka aman?

Internet ini cakupannya nggak cuma sebatas untuk social media aja tapi juga termasuk TV berbayar.

Saya sih lumayan membatasi anak main internet/games/gadget/screen time karena pengalaman menghadapi mas B yang sempat speech delay di usia 2 – 3 tahun. Salah satu yang disalahkan adalah gadget (walaupun belum terbukti kebenarannya). Nggak mau kejadian lagi sama adik A. Justru suami saya ngebebasin sebebasnya bahkan memfasilitasi anak dengan perangkat gadget berikut wifinya. Kami berdua pernah ngebahas soal membatasi screen time anak, tapi endingnya tetep ngebebasin juga. Laah piye, wong suami saya kalau di rumah juga mainan smartphone terus. Istrinya dianggurin #akurapopo. Kadang saya suka manfaatin mas B sih buat ngomelin bapaknya supaya stop main smartphone. Saya sendiri sekarang cukup membatasi mainan smartphone, biasanya nunggu anak2 tidur dulu atau saat nemenin anak2 nonton TV. Bad parents (and couple) banget ya kita.

Untungnya punya anak nurut, gampang dikasih tau dan nggak addicted sama gadget. Kalaupun udah waktunya istirahat sama gadget juga no probs. Paling ngomel-ngomel sebentar tapi kalau udah dialihin perhatiannya lama2 juga lupa.

Karena kami berdua bekerja, pengasuh di rumah menjadikan gadget sebagai alat supaya mas B dan adik A anteng, duduk dan nggak lari kemana-mana saat disuapin makan. JANGAN DITIRU! Biasanya yang dimainin sih nggak jauh dari games, dengerin lagu2 dan aplikasi untuk baby lainnya. Tapi sekarang dengan adanya wifi, kegiatannya nambah jadi suka nonton Youtube. Tontonan dan gamesnya masih seputar anak2 juga sebenernya cuma yang dikhawatirkan kaaan tontonan yang nyasar, sliwar-sliwer iklan yang nggak jelas dan yang bukan untuk konsumsi anak-anak. Ini sih yang harus diwaspadain banget!

Anak-anak saya termasuk dalam gen Z dan gen Alpha. Mereka termasuk dalam digital native. Hidup mereka sejak masih dalam kandungan juga udah terpapar internet dan kecanggihan teknologi. Semua karena ibu bapaknya! Mau ngelarang anak main internet? Hare gene?

Mungkin kita sebagai orang tua nggak bisa lagi bilang SAY NO TO INTERNET tapi kita bisa usaha untuk BE WISE AND SAFE USING INTERNET. Melarang anak menggunakan internet, sama halnya seperti kita melarang anak main gunting, pisau, cutter dan api. Kalau anak kita mau belajar pakai gunting/cutter pasti kita dampingin kan, supaya apa? supaya anaknya nggak tertusuk, tergores dan luka. Bermain internet sama bahayanya dengan bermain gunting. Bahkan lebih bahaya.  Lukanya justru lebih parah karena langsung nusuk ke hati dan jiwanya dan apa yang dia lihat di internet akan teringat terus sampai dewasa. Kalau cuma sekedar ingat masih mending ya, tapi kalau sampai menjurus ke perilaku yang nggak sesuai bisa bahaya ke kejiwaan si anak. Makanya anak harus didampingi saat bermain dengan internet. Nggak usah jauh2 deh. Miris nggak kita kalau denger anak pre-remaja suka maki2 orang tuanya pakai bahasa kebun binatang atau sering kita dengar di berita kriminal anak2 melakukan aktivitas orang dewasa dengan teman atau saudaranya (nggak perlu disebutin but U know what i mean). Miris, yes! 😦

Anak saya sih masih balita masih lebih gampang dikasih tau dan diarahin. Nah, apa kabar buat anak yang udah masuk usia pre-remaja, yang mulai punya account social media sendiri, yang mulai punya privasi dan nggak mau diganggu sama orang tuanya, yang malu kalau orangtuanya follow akun dan jadi stalkernya, yang mulai GR kalau ada teman ganteng/cantik ngefollow akunnya, yang lagi masanya mencari jati diri. Sekalinya anak galau dan orang tua nggak ada di sampingnya untuk mendampingi dan bahkan lari ke orang lain di luar keluarga, kelar hidup lo.

Nggak bisa dipungkiri segitu jahat dan kejamnya efek internet ke dunia anak2 kita jaman sekarang ini. That’s why tugas orang tua lah yang harus mendampingi anak mengenal dan menggunakan internet dengan cara aman dan tentunya basic IMAN juga harus kuat.

Kapan sih anak siap untuk menggunakan internet dan kapan kita bisa percaya pada anak? relatif! Best practice said, diatas usia 13 tahun, usia dimana anak dirasa cukup wise memilih mana yang baik dan buruk buat dia termasuk dalam menggunakan internet. Kalau kita mau install aplikasi seperti Youtube, Facebook di apps store/play store ada logo 12+ artinya diperuntukkan untuk usia 12 tahun ke atas. Kan ada Youtube Kids yang untuk 3+ yang sepertinya menawarkan pengamanan lebih untuk anak balita? Pertanyaannya sekarang, Youtube Kids yang kita install di Indonesia itu provider resmi (such as Google) atau enggak? masih ngerasa aman pakai provider yang nggak jelas asalnya? Di Google Play Store semua aplikasi udah dilengkapi dengan Parental Guide tinggal kitanya pakai guide itu atau enggak.

So, gimana caranya supaya internet aman untuk anak?

1. USE COMMON SENSE AND EDUCATE/ACKNOWLEDGE THEM

Kita bisa mulai mengajari anak memilih pertemanan di medsos, untuk apa mereka punya akun medsos, gimana memakai medsos supaya bermanfaat dll. Kita nggak bisa begitu aja menutup akses mereka terhadap medsos. Kalaupun kita kecolongan ngeliat anak kita nonton yang nggak sepatutnya ditonton, beri pengertian sama anak, jelaskan apa yang boleh ditonton dan apa yang enggak. Tentunya dengan bahasa yang mudah dimengerti sama mereka.

2. HOUSE RULES

Bikin aturan di rumah, stick to it dan be discpline for both parents and kids. Contohnya meletakkan layar komputer tidak menghadap tembok supaya kita tetap bisa mengawasi apa yang ditampilin di layar komputer anak, gunakan parental control, kids lock, restricted mode di semua browser nggak cuma Youtube, Fb atau medsos apapun bahkan di TV berbayar. Jaga dengan baik passwordnya, cek history browser yang pernah dipakai oleh anak.

Pemakaian internet saat ini nggak bisa kita hindari, yang penting kita sebagai orang tua udah berusaha membatasi. Sering2 ajak anak ngobrol tentang apapun. Security is not a product, it’s a process. Kita pun bagian dari proses, proses belajar supaya nggak gaptek dan nggak dibodohi sama kecanggihan teknologi (dan orang-orang jahat di balik itu).

3. PROTECTION / SECURITY

Ngomongin soal password, kata mas Ilya, nggak ada tuh yang namanya password dijamin 100% aman dan private. Sesulit dan sepanjang apapun angka dan huruf yang kita pakai untuk password, even yang diambil dari kamus2 berbahasa aneh sekalipun, itu semua bisa dibongkar terutama oleh orang yang ahli di bidang IT.

Apalagi password yang sama dipakai untuk aplikasi beda-beda atau password email (dhi Yahoo) yang sering dipakai untuk log-in medsos lainnya dan apalagi e-banking. BAHAYA BANGET! Hii ngeri yaah, pantesan sekarang ini banyak banget hacker dan phising. Password yang paling aman mungkin hanya sidik jari.

Jadi sebenernya mobile device = insecure device. Dengan adanya password, keamanan soal data value dan device value di dalam gadget si orang tua belum tentu 100% aman. Apalagi kalau sampai gadget tersebut dipinjam oleh anak untuk akses medsos melalui internet.

Your screen = major leaked information gateway. Berhati-hatilah ketika menggunakan gadget di tempat umum atau kendaraan umum. Begitu juga halnya kalau kita sering pakai fasilitas wifi gratis di  tempat umum (prefer pakai free wifi dengan password) dan bahkan charge batre smartphone di tempat umum. Semuanya rawan buat keamanan data di smartphone kita. Mas Ilya menyarankan kalau mau ngecharge smartphone di tempat umum sebaiknya pakai pelindung USB (‘USB condom’) sehingga yang berpindah hanya arus listrik, bukan data.

Security dan convenience selalu bertolak belakang. Makin aman, makin nggak nyaman dan sebaliknya. Security untuk gadget sama halnya dengan security untuk rumah. Kita bisa aja pasang 10 atau lebih kunci dan gembok untuk rumah kita, tapi once kita mau pergi dan ketinggalan barang di rumah maka kita harus buka 10 atau lebih kunci dan gembok dulu baru bisa ambil barang yang ketinggalan. Instead of mau buru-buru malah jadinya lama, padahal niat awalnya emang pengen rumah kita aman. Tapi kalau kita nggak pakai password, siap2 bye bye sama data yang ada di smartphone kita.

At the end, kembali lagi ke masing2 orang tua. Jangan cuma jadi orangtua yang gaptek. Be smart and never stop learning about everything. Use common sense dan selalu dampingi anak selama menggunakan internet.

Just remember!

  • You are what you know (jangan jadi orang tua gaptek, be acknowledge)
  • You are what you have (gunakan gadget sesuai kebutuhan)
  • You are what you are (jaga kerahasiaan pin/password).

 

Save

Advertisements

8 thoughts on “No Internet for Kids!

  1. Samaan ya Mba, datangnya karena pengin lihat pandangan lain…dan ternyata sama-sama bikin baper jugaaa. Iya sekarang anak-anak masih kecil-kecil, nanti gedean dikit bakal kayak gimana ya, duh, PR-nya berasa banyakkk.

    Like

    • Ngebuka mata banget deh acara kemarin itu. Untung fact yang dikasih cuma seicip dua icip, kalau digelar semua kayaknya bakal langsung pulang dan ngekepin anak aja deeeh… hahaha emak baperan…

      Like

  2. Aku ngikik Shin dengan hestek #akurapopo 😅 thanks buat sharingnya ya. Bermanfaat karena ngasih sudut pandang berbeda. Era internet ini memang ngeri2 sedap ya. Ada yg sudah berhati2 ga upload apapun foto anak, eh orang lain yg upload. Ada yg di rumah sudah mendidik anaknya ttg bijaksana dlm berinternet, eh begitu kumpul temen2nya bubar ajaran dari rumah dll.

    Liked by 1 person

    • Naaaah itu dia, pergaulan di luar yang justru lebih mengerikan, makanya dari dalam rumah harus dipagarin dulu. Allahualam yaa, mudah2an anaknya bisa ngebentengin dirinya sendiri kalau emang udah dibekali keimanan dan pengetahuan…

      Like

  3. Saya setuju mba, internet gak aman buat anak-anak. Saya juga takut kasih pegang hape saya ke anak. Saya lebih suka bawa anak puter-puter sore, bawa maen ke taman, jalan pagi kalo hari minggu, kegiatan luar rumah kayaknya aman untuk otak anak hehe… Saya takut internet mencemari otak anak saya mba.
    Enakan masa kita kecil dulu, no internet, no hape, hanya telepon biasa dirumah sajah. Itupun tidak bebas dipake karena ortu ngomel saat lihat saya udah mendekat ke telpon, akhir bulan ortu pusing lihat tagihan telkom hehehe 😛

    Like

  4. Ira says:

    tiap masa ada tantangannya ya Mbak Shinta….screen time itu emang ngeri ngeri sedap…sebagai orang tua kudu one step ahead daripada bocil ya. tetep semangat ya mbakkkk

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s