Posted in Daily stories, Health, Little sister - Adik A

My milk my adventure – S2 ASI

Postingan pertama di tahun 2017 tentang resolusi saya sebagai ibu menyusui bisa lulus S3 ASI sampai adik A 2 tahun.

Alhamdulillah di usia adik A 1 tahun 5 bulan ini mASIh menikmati ASI di malam hari on weekday dan non stop kapanpun dia mau on weekend. Saya sendiri di kantor udah nggak breastpumping lagi karena kesibukan pekerjaan males. Hahaha *jangan ditiru. Padahal kalau emang niat, mau dan usaha sempatin waktu bisa aja.

Walaupun udah nggak breastpumping on daily basis tapi saat saya lagi dinas keluar kota atau saat saya pergi beberapa hari tanpa bawa adik A saya masih pumping.

Selama London trip kemarin saya bawa peralatan breastpumping dan pumping kapanpun saya bisa, terutama di apartment. Hari pertama mendarat di London, lumayan dapat 1 botol 150 ml. Selama more than 20 jam, saya nggak pumping sama sekali di atas pesawat karena saya nggak bawa peralatannya ke kabin. Tapi berhubung badan rontok, capek dan beberapa hari nggak latch on langsung sama baby jd di hari ke 2, ke 3 dst langsung surut drastis sisa setetes dua tetes.

End upnya selama 10 hari trip saya hanya berhasil produksi ASI perah less than 400 ml. Itupun terpaksa saya buang semua waktu kena declare di bandara Heathrow. Sedihnya nggak ketulungan. Asli saya nangis mewek di depan petugas bandara yang perempuan dan mereka tetep minta saya buang ASI perahnya. Emang ini kecerobohan saya nggak ngecek secara detail Terms & Condition mengenai boleh tidaknya bawa ASI Perah ke dalam kabin pesawat. Petugas sempat tanya ke saya

P: what is it?

I: breastmilk

P: Where is your baby?

I: She’s at home. endebrei endebrei. Lalalala….

Intinya sih untuk ibu menyusui boleh bawa ASI perah or any kind of milk di kabin maksimal 100 ml dan harus membawa bayi. Yaaa plisss deeeeh, kalau bayi dibawa kaan, buat apa saya capek2 breastpumping, kan bisa disusuin langsung. Kacrut tenan lah bule2 ini. *Sigh. Saya udah males debat kusir pakai bahasa Inggris, belepotan. Pasrah aja. Nelongso banget deeeh pas buang plastik2 ASI ke dalam tong sampah sambil air mata becucuran orauwisuwis. Huhuhuhu…

Waktu saya posting tentang ini di IG ternyata dapat respon dari ibu2 menyusui lain yang udah pengalaman travel keluar negeri. Mereka pun merasakan hal yang sama, terpaksa harus membuang hasil perahan karena nggak bisa bawa pulang ASI perah ke dalam kabin. Sebenernya kalau persiapan kita baik, bisa aja bawa pulang ASI perah masuk ke dalam bagasi, tapi yaa harus sempurna banget packagingnya supaya selama di perjalanan ASI perahanya nggak mencair. Rempong lah pasti karena harus pakai double cooler, ice cube yang banyak, stereofoam, double sealed dll. Rempoooooong mbaknyaaaa…..

Bulan Nopember yang lalu saya kembali harus dinas keluar kota selama 2 hari. Berdasarkan pengalaman hasil ASIP yang tinggal setetes dua tetes, baru kali ini saya nekat nggak bawa peralatan ASI. Iya, nekat dan suudzhon sama diri sendiri. Eeeeh ternyata yaaa, setelah saya acara seharian dan malamnya acara bebas, gentong ASI mulai cenat cenut. Waduuuuh, piye iki yoo. Untungnya (Jawir bener yaa) ada teman kantor saya sesama ibu menyusui yang masih aktif breastpumping dan bawa peralatan ASI lengkap.

Saya sendiri akhirnya breastpumping dengan teknik marmet, ditampung di gelas dan minta plastik ASI teman saya supaya ASI perah bisa disimpen di freezer kamar hotel. Alhamdulillah rejeki ibu menyusui. Awalnya suuzhon sama diri sendiri, ternyata walaupun anak udah usia 1 tahun, masih dikasih rejeki untuk bisa produksi ASI.

Di Group WA TUM Birth Club 0815, beberapa ibu sudah mulai menyapih anaknya dengan alasan ada yang hamil lagi jadi takut kontraksi dan ada yang produksi ASInya sudah menipis.Itu semua pilihan dan kondisi.

Kalau adik A boro-boro mau disapih, wong kalau tidur semaleman ngempeng terus sampai kepala saya tengeng, lengan dan tangan pegel2 karena tidurnya terpaksa miring dan badan masuk angin. Kalau ada saya, susu UHT di botol positif nggak laku, lebih enak ngamprok ke gentong ibu ya deeek. Hahaha. Yaah mudah-mudahan adik A bisa lulus S3 ASI juga kayak mas B ya.

Moral of the story untuk ibu2 menyusui: don’t underestimate yourself, keep pumping, keep breastfeeding. You will never know until you try.

Dan untuk para bapak, saudara, kerabat dan teman2 ibu menyusui: give them support, dukungan, kASIh, doa, happiness dan spread the positif vibe around her.

May the force be with ASI!

Save

Advertisements

Author:

i'm an ordinary mom & wife with ultraordinary love..

3 thoughts on “My milk my adventure – S2 ASI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s