Posted in Travel stories

London Trip – day 7. London Eye and chitchat with the british 

Akhirnya sampai juga di hari ke 7. Nyaris di penghujung akhir perjalanan kami di kota London. Hari ini bisa dibilang hari terakhir kami di kota London. Besok kami akan lanjut perjalanan ke Edinburgh, Scotland untuk 3 hari 2 malam. Sebenernya dari Edinburgh kami akan balik lagi ke London 1 malam untuk pulang ke Jakarta tapi nggak ada waktu untuk keliling kota lagi. Ada sisa waktu 1/2 hari yang kami pakai untuk jalan2 ke Oxford Street just for the sake of killing time, ninggalin jejak kaki dan menghirup udara London untuk terakhir kalinya. Sisa malamnya untuk final packing, tidur dan istirahat aja.

Well eniwei, hari ini judulnya adalah hari penuh janji. Suami saya janji untuk lunchdate sama temen Indonesianya yg kerja di UK dan dinner date sama temen Britishnya. Sementara saya janji sama diri saya sendiri yg selama 12 tahun dipendam untuk bisa naik Coca Cola’s LONDON EYE.

Pagi hari selain rutin masak dan nyuci, kami harus packing untuk sebagian koper yang akan dibawa ke Edinburgh dan sebagian lagi yg akan dititip di apartment. Kayaknya enteng yaa ngomongnya sebagian tapi itu maksudnya 1 koper extra large + 1 koper kabin + 1 stroller loooh yang akan terbang ke Edinburgh. Sementara yg sebagian lagi 1 koper extra large + 2 koper cabin dititip di apartment. Hhhhm, kurang banyak bawaannya nyaaah. Hahaha, rempong is my middle name.

Karena temen suami saya tinggal diluar kota London dan harus naik kereta api jadi kami janjian jam 11 di Primark Oxford Street, deket dengan stasiun. Setelah ketemuan, kita jalan kaki menuju Chinatown untuk makan siang di restauran melayu/asia “Rasa Rayang”. Waktu hari pertama sampe di London, kami sempat jalan2 ke Chinatown dan rencana pengen makan di resto ini tapi mas B tetiba crancky trus protes “ebooook, saya nggak mau aah ke Cina, saya kan maunya jalan-jalan ke London”.

Hahaha dasar bocaaah masih jetlag belum tau artinya Chinatown. Yawis, akhirnya kesempatannya hadir hari ini deh. Di Chinatown ini ada 2 resto melayu yg terkenal. Satu lagi namanya Nusa Dua persis di pinggir jalan besar dan restonya lebih besar. Resto Rasa Sayang ini kalau dari depan keliatan kecil dan sempit tapi ada lantai bawahnya jadi sebenernya kapasitasnya banyak.

Ini menu yang kami coba: nasi lemak yg porsinya bisa untuk berdua, kwetiau goreng, mie goreng Malaysia, tahu isi goreng bumbu rujak dan sate ayam bumbu kari.

Dari semua ini saya paling suka kwetiau goreng pesenan suami. Kalau mie goreng Malaysia pesenan saya malah saya kurang suka padahal baru pertama kali coba. Apa yaa,karena bumbu rempahnya terlalu maghtegh di lidah saya. Sate ayamnya juga dimasak dengan bumbu kari. Tahu gorengnya yaa lumayan aja sih. Nasi lemak pesenan temen cukup liat penampakanya aja udah wareg sissss, banyaaak banget porsinya.

Untuk yang travel ke London dan kangen masakan Indonesia/melayu boleh coba resto Rasa Sayang atau Nusa Dua. Not bad kok baik harga maupun rasa.

Selesai makan kami nemenin temen suami yg lanjut janjian dengan temennya lagi. Kebetulan temennya itu janjian di Westminster bridge jadi saya sekalian aja PAKSA suami untuk naik ke London Eye, kan deket banget tuuuh. Tadinya suami saya udah ogah-ogahan naik London Eye. Alasannya antrinya panjang dan tiketnya mahal. Tapiiii dengan rayuan manjaaah penuh cintaa dari istri sholehah, akhirnya luluh juga. Hahaha, factnya siih saya mau nggak mau yg harus antri beli tiket yang katanya antriannya panjang itu tadi. *sigh *istri sholehah

Di perjalanan menuju London Eye ada dinding mural cantik banget deh. Ternyata disini ada gedung sekolah seni dan pertunjukan. Saya sempet ketemu beberapa orang yang bawa2 alat2 musik sama latihan drama.

Di perjalanan menuju London Eye, persis di belakangnya (queen’s walk and Jubilee garden) ada children public playground yang lucu banget. Peralatannya dari kayu log gitu untuk dipanjat anak2. Ada spider web dan kuda-kudaan juga. Mas B akhirnya main cukup lama disitu.

Selesai main, saya langsung cuss antri beli tiket. Liat antrian tiketnya aja udah bikin nelongso, apalagi liat antrian masuk ke London Eye, nyariss mau nangis sayaah. Panjaaaang  bangettt. Huuuwaaa.

Konon katanya the best time untuk naik London Eye ini pagi hari sekitar jam 9/10 atau sore hari jam 3/4. Pas banget kami sampai disana jam 3.30. Walaupun nggak dapet sunset karena agak mendung.

Tiket London Eye ini ada berbagai tipe. Ada yg reguler price, fast track price (nggak pakai antri) dan package price bundling sama wahana lain yang masih 1 grup sama London Eye. Oohh iya London eye ini sponsornya Coca Cola jadi di capsulenya tertulis Coca Cola’s London Eye.

Saya beli yang reguler price yaitu untuk dewasa £24.95 dan anak £19.95. Kalau beli online via web bisa dapet diskon 15% sebenernya tapi karena saya belum tau mau naik London Eye hari apa jadi ad hoc aja. Lebih mahal nggak apa2. Untuk fast track harganya £35.00 -an dgn priviledge nggak perlu antri.

Beneran deh antri tiketnya 20 menit, antri masuk ke London Eyenya 20 menit lagi. Anda puas kami lemas. Suami saya mulai manyun.

Pada saat antri kita dapet kesempatan foto keluarga oleh crewnya, begitu juga saat di dalam capsule. Nanti begitu selesai muter London eye kita bisa beli foto kita yg udah dipaket berikut framenya. Tadinya saya pikir complimentary dooonk ternyata bayar cyiiin, mahal lagiii, sama kayak harga tiketnyaaa. Huhuhu nehi deh ya. Untung kita uda narsis2 sendiri pake kamera dan HP.

Begitu kami masuk ke dalam capsule saya langsung brebes mili. Alhamdulillah Ya Allah wishlist saya 12 tahun lalu bisa terwujud naik London Eye sama keluarga. Masya Allah rejeki hadiah ulang tahun buat saya dan mas B. Huhuhu terharu akuuuu sampe merinding disco. Di atas capsule nggak henti2nya saya bilang terima kasih, peluk2 dan cium2in suami sampe jontor. Hahaha lebay shaaay. Biarin aja lah norak to the max. Kapan lagi ya nggak norak di kota London tanpa harus ditatap nyinyir sama orang-orang. Turis2 lain juga nggak peduli kok. Hahahaha…

12 tahun menunggu untuk menikmati 30 menit pengalaman bersama London Eye, all i can say is Alhamdulillah. Nikmat apalagi yang kau dustakan.

Selesai naik London Eye sekitar jam 4an, kami balik ke apartment. Tadinya saya pengen ke National History Museum tapi suami saya ada janji jam 6 sore dengan temannya orang Inggris, jadi takut kalau telat. Haha…

Sebelum ketemuan mereka sempat WA-an dan temen suami kasih beberapa saran tentang tour di London

Hi Daniel

The London Pass is comprehensive and I am sure that you have many good attractions to choose from.
My children enjoyed the tower of London and Tower Bridge which are located in close proximity.
A walk through Whitehall  is interesting and you can visit The banqueting Hall and Westminster Abbey. You will also see the House of  Parliament and you can visit the Methodist Hall {also free} From here you can walk through St James Park towards Buckingham Palace and The Mall.
Our museums are free and I am sure that your son will enjoy the Natural History Museum and the Science Museum which are both located next to one another near South Kensington Tube station. The Royal Albert Hall is only 150 meters from the museums too. From the Royal Albert museum you only have to cross the road to reach Hyde Park. Here you will find the Albert memorial  (Queen Victoria’s Husband} this is free too
You are staying very close to The British Museum only a 5 minute walk on the other side of Russell Square In fact in the evening you can walk to Covent Garden and Leicester square. Maybe a 15 minute walk. The tube is only 5 minutes faster.

My eldest son lives very close to where you are staying so we walk everywhere. The Tube is quick but it takes time to get to the platforms which are deep below ground. The Piccadilly line is fast and if you want to check distances go to TFL on the web to plan your journeys.
Camden Market is very interesting from a food point of view as you can find food from most parts of the world and it is close to the Canal. It is not too far from Regents Park and London Zoo which is also on your pass..
Some attractions are some distance away such as Kew Gardens 35 minute by Tube with 1 change. It is a good idea to plan your visits by tube line. Russell square is on the Piccadilly line and this will take you to Covent Garden Leicester Square and South Kensington.  Please feel free to text me if you have a question when on the tube as I can check the map. I have a translation app from Indonesian to English !
The London Eye is also very good and The Shard is too so I am told. Let me know if you want to go there and I will advise the best solution.
St Pauls Cathedral is worth a visit too. Covent Garden normally has street artists as a side attraction.
Since my sons live so close to where you are staying you can call me on saturday when it is convenient for you and I can fit in around your schedule. I think that your hotel is a 5 minute walk.
Enjoy your stay and please feel free to ask me if you need clarification on anything.
Regards

Duncan

Akhirnya tepat jam 6 pak Duncan bersama 2 anaknya (sebut aja Will & Harry. Saya lupa namanya) jemput kami di apartment.

Ada beberapa kejadian lucu sekaligus ngeselin saat pertemuan dengan si mister ini.

Pertama saya uda senewen antara mau bawa stroller atau enggak. Senewen kedua takut mobilnya nggak cukup nampung kami bertiga, sementara dia sendiri sekeluarga terdiri 3 org dewasa. Senewen ketiga saya takut nggak bisa ngobrol eingreish waswiswoswes.

Eeeeh dasar mamak dodol surodol, lupaa yaaa kalau orang Inggris itu demennya JALAN KAKI. iyes, pak Duncan jemput kami dgn JALAN KAKI. hahaha kasian deeeh nyonyaaaah. Begitu ketemu, pak Duncan bilang “do you mind if we walk?” dan suami saya jawab “never mind, we already walk since the first day we arrived in London”. Saya sendiri senyum kecut dan dalam hati bilang “asyeeeeeeem” hahahaha….

Setelah tau akan jalan kaki, suami males masuk apartment lagi ambil stroller jadi mas B DAN SAYA terpaksa jalan kaki. Jalan kaki bertiga pasti beda dengan jalan kaki bareng bule-bule berkaki panjang dan berjalan cepet kayak Flash. Ketinggalan muluk cuuii. Berasa ngos-ngosan banget. Howh hosh hosh.

Kami jalan ke arah Covent garden karena disana emang banyak pilihan cafe2 (pppssst, masih inget kan beberapa hari sebelumnya saya ke Covent Garden naik tube karena jauh @_@). FYI, temen suami saya ini bukan Londoners, dia tinggal di luar kota London tapi 2 anaknya lagi kuliah di Uni di London. Etapii yaaa udah 5 tahun tinggal di London, si anaknya ini juga nggak paham betul daerah London. Kalau jadi tour guide jagoan guwek kalii *ejiyeee somse *pongah tanda tak mampu. Modal kita yaa google map.

Covent Garden di weekend malam itu crowdednya luar biasa. Apalagi sampai disana udah jam 7 malam lagi bubaran theater jadi semua cafe full, terutama cafe2 favorit pasti antri panjang. Di Covent Garden itu ada banyak banget theater. Mereka sih nyebutnya theater tapi itu artinya bisa nonton pertunjukan (baca: art peformance on stage) ataupun nonton bioskop (baca:movie). Salahsatunya Harry Potter theater.

Herannya saya, cafe disana itu selalu rame looh, even yg penampakannya nggak meyakinkan dan lokasinya di gang juga penuh. Hampir 1 jam kita bolak balik mondarmandir Covent Garden dan sekitarnya, ngider2 ke beberapa cafe selalu ditolak. End upnya mas B mulai crancky.

Sebenernya pak Duncan itu juga agak pilih2 cafenya karena mereka tau kami muslim dan nggak makan pork jadi dia cari cafe yg ada menu non-porknya.

Akhirnya jam 8 malam ada 1 cafe yg tersisa 1 meja pas untuk kita berenam. ALhamdulillah.  It’s an Italian cafe gitu. Saya sampai lupa loh mau foto2 cafenya maupun foto kita ber 6 pas lagi makan saking laper, capek dan ngantuk. Lupa juga nama cafenya jd nggak bisa googling.

Saya pesan salmon spagetty, suami saya spagetty cabonara dan keluarga pak Duncan pesen burger, steak dan sejenis seafood platters gitu. Mas B makan apa? dia nggak makan karena udah terlanjur tidur di pangkuan bapaknya. Kecapekan boook.

Apparently rasanya enak banget loooh. Duuuh saya nyesel banget nggak fotoin deeh. Suasana cafenya semi bar gitusih jadi ada yang makan, ada yg minum2 di bar.  Ada keluarga yg bawa anak2nya juga dan jam segitu masih melek.

Sambil makan kita ngobrol. Pastinya saya cerita pengalaman selama beberapa hari udah jalan kemana aja ke kota London. Will & Harry ini walaupun udah 5 tahun di London tapi nampaknya nggak pernah kemana2. Namapun mahasiswa, uang sakunya terbatas dan hanya cukup untuk livingcost aja. Terbukti kan jagoan saya jelajah tempat wisatanya. Travel blogger gituloh. Hahaha minta ditoyor Noni & Feby.

Yaaa ibaratnya gini deh, saya 40 tahun tinggal di Jakarta sama sekali belum pernah naik ke atas Monas, belum pernah naik TransJakarta, commuterline ataupun gojek , belum pernah kulineran ke PIK dan baru 2 kali ke bonbin Ragunan itupun jaman SD. Haha kesiaan ya kurang kekinian. Mungkin temen2 dari luar kota yg jalan2 ke Jakarta malah lebih tau selukbeluk Jakarta daripada saya.

Will sempat cerita livingcost dan education cost di London itu mahal. Nah orang Inggrisnya sendiri ngakuin. Makanya dia tinggal di apartment berdua temennya dan setiap hari masak sendiri atau beli makan di kantin kampus. Setiap hari mereka jalan kaki atau sewa sepeda yg costnya £2/day baik ke kampus, perpus atau tempat lainnya. Coba bandingkan dgn cost naik bis/tube pakai Oyster Card min. £1,00 ke 1 tujuan. Biaya makan pun juga mahal loh. Kopi/teh min. £1.50 – £2.50/cup,  sandwich/cake around £2.00 sekali telen, makan besar min. £15.00 itu juga yg fastfood, kalau fine dining pasti lebih dari £25.00/porsi, bahkan ada yg cerita kalau seporsi fish ‘n chips di salahsatu resto fine dining terkenal di london di pinggir Thames river bisa mencapai £80.00. OMG!!!!

Harga2 belanjaan di supermaket nanti saya share lengkap di aneka tips yaa….

Cost untuk listrik nggak terlalu tinggi (menurut Will tapi menurut temen suami yg org Indonesia tinggi terutama kl pas winter hrs nyalain heater), free wify dan laundry  di apartment. Biaya kuliah mereka tinggi karena jurusan kedokteran, around £11,000/year belum termasuk lab dan buku. Untuk International student lebih mahal lagi. Ruaaarrr binnassa. Makanya jadi orang yang pinterr biar dapet scholarship ya neeeik

Saya coba googling dan nemu infonya di sini

Saya sempat tanya “kalau livingcost di London mahal kenapa kok saya liat cafe dan coffeeshop di london selalu laris dan penuh mulai dari pagi jam 8 s.d malam even di gang yg orang nggak kepikir bakal lewat situ?”

Will bilang “they definitely not real Londoners/British but foreigners who do business or work in London or tourist like you. Their life is on the street. They go from their apartment/hotel/houses early in the morning, take breakfast/coffee at coffeeshop or buy food-to-go from supermarket then go for work/leisure. Same as for lunch. Londoners like to hangout at night, that’s why you see many bars always full of people chit chat or drinking beers/wine after work or theater. I can’t do that everday because I know it’s expensive”

“London has around 8 Million people/population, it is a very crowded city. It’s also a multicultural city. If you go about half an hour outside London, you will see a different atmosfer. Such as in my hometown, it’s much more quite”

Saya manggut2 aja dengan jidat mengkerut biar kliatan ngerti. Hahaha. Kurang lebih begitu tapi Inggrisnya lebih mumpuni dgn aksen british yg kental. Trus dia gantian tanya saya jumlah penduduk di Jakarta berapa? dan saya dengan tegas jawab “A LOT!”. Hahahaha…..

Pak Duncan juga sempet cerita tentang usahanya jualan ice cream. Haaa, ice cream? Saya sempet heran. Katanya temen kantor suami tapi kok jualan ice cream? pak Duncan cerita kalau di rumahnya ada farm dengan padang rumput luas, kandang dan pelihara sapi. Dia produksi ice cream sendiri mulai dari susu hasil memerah sapi s.d produk akhir berupa ice cream. Sempat juga tanya ke saya soal ice cream di Indonesia. Harganya brp? org Indonesia suka ice cream nggak? prospek bisnis ice cream gmn? dll..lama2 diajak jd partner bisnis nih kayaknya. Hahaha..

Pak Duncan jg cerita dia pernah liburan ke Indonesia 2x yaitu tahun 1980an selama 3 bulan dan 2 tahun lalu ke Jogja yang ketemu suami saya.

Sampai di rumah saya tanya ke suami. Pak Duncan itu ketemu dimana sih, katanya temen kantor tp kok jualan ice cream? Trus suami jawab bener emang suami ketemu pak Duncan di acara kantor tp secara nggak sengaja. Jadi waktu ada gala dinner acara kantornya di kraton Jogjakarta suami liat ada pasangan bule clingak clinguk di depan teras. Trus pak Duncan tanya2 ada acara apa di dalam trus suami saya spontan ngajakin masuk pak Duncan dan istrinya untuk join makan malam dan liat pertunjukan. Pak Duncan dan pak Daniel akhirnya tukeran no HP. Pas timingnya mau ke London pak Daniel WA pak Duncan and there goes the story begin. Eaalaaaa bule nyasar ternyataaaa….. hahaha.

Pengalaman menyenangkan bisa ngobrol sama keluarga pak Duncan. Ooh iya for those bule hunter, kalau mau cari pasangan bule Inggris carilah seperti anaknya pak Duncan. Ganteng2, pinter calon dokter lagi. No pic = hoax yes tapi saya nggak boong kok. Boong kan dosa. Apaan sik loo..

Well, sekian dulu cerita jalan2 di Londonnya. Besok kami akan lanjut ke Edinburgh. Huhu mulai berasa sedih #rawcktoberbirthdaytrip -nya is almost over.

Insya Allah kalau ada rejeki mau ke London lagi karena masih banyak tempat wisata yg belum kami datangi. Bener kan 10 days is not enough. Saya masih pengen ke National History Museum, pengen sholat di central Mosque of London, pengen nonton Harry Potter studio tour, masuk ke Madame Tussaud, ke Baker street tempatnya The Beatles, aneka museum, belanja di Harrods (eh), nonton tenis di stadion Wimbledon dan masih banyak lagi.

Semua berawal dari wishlist. Just keep on pray, set your priority and let God do the rest.

See you again London, till we meet again……

Save

Advertisements

Author:

i'm an ordinary mom & wife with ultraordinary love..

7 thoughts on “London Trip – day 7. London Eye and chitchat with the british 

  1. National History museum padahal bagus loh Shin👌🏻
    Emang bener, biaya hidup di London or UK in general itu mahal. Jadi ga bisa spt yg dilihat di social media ataupun film2 kluar masuk resto mewah ngupi sana sini. Bisa sik tp bankrupt jadinya😜😜

    We lived in UK for 4 years, but not in London, skitar 1 jam naik kreta ke London deh. London is nice for holiday but petsonally for me it’s a bit too crowd to live and no nice beach around😜😜

    Liked by 1 person

    1. Mbak, iyaaah London crowded banget but me like it looh. 10 days is not enough yaa ternyata buat explore kota ini, banyak banget yg masih pengen diliat. Penasaran jugaa pengen ke kota2 lain di sekitarnya, belum sempat……

      Like

  2. Aku juga ngebet naik London Eye dulu dan kesampaian.., cuma agak kecele.. Aku pikir bakal lebih bagus daripada Singapore Flyer tapi ternyata gak.. Tetep bagus sih cuma karena yg pertama dijajal tuh Singapore Flyer yg lebih baru, lebih besar, lebih modern, aku naiknya 2x pula; jadinya berasa biasa aja pas naik London Eye..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s