Posted in Review, Travel stories

Nusadua Beach Hotel

Selama di Bali kami nginep di Nusadua Beach Hotel.

Saya kenal dan pertama kali main ke Nusadua Beach Hotel kalau nggak salah 30 tahun yang lalu, saat SD. Diajak alm. Bapak ke gala dinner acara kantornya. Berarti udah tua banget yaa hotel ini. Bisa jadi hotel ini adalah salah satu cikal bakal hotel bintang lima yang ada di Nusadua. Namapun sesuai lokasinya.

Nginep di Nusadua Beach Hotel Bali ini jadi salah satu wishlist suami saya sejak 3 tahun lalu dan wishlist saya sejak jaman SD itu (sebenernya wishlist saya bisa nginep di hotel apa aja yang penting di Nusadua, hahaha).

Jadi 3 tahun lalu kan kami nginepnya di hotel tetangga, kalau pas joging pagi hari pasti kami ngelewatin hotel ini dan suami saya cukup kagum dengan luas dan besarnya hotel ini trus dia bilang sama saya “kalau ada rejeki ke Bali lagi, kita nginep di Nusadua beach hotel yuk”.

Alhamdulillah rejeki pasangan samawa, doanya dihijabah tahun 2016 bisa nginep disini, komplit dengan 2 anak. Semua berawal dari wishlist.

Awalnya saya agak pesimis sama hotel ini, secara uda tua ya saya pikir pasti dalemnya jadul. Eeeh ternyata keren loh. Yaeyalaaaa hare gene, kan ada renovasi mpok. Hahaha.

Iyasih, hotel ini pastinya uda ngelewatin tahap renovasi supaya lebih modern dan sesuai sama perkembangan jaman. Tapi di beberapa sudut hotel masih ada peninggalan2 lamanya. Saya masih lumayan inget.

Salah satu yang jadi highlight dan ciri khas dari Nusadua beach hotel ini adalah GERBANG PURA dan taman yang ada di depan. Point of interest banget begitu mobil kita masuk ke area Nusadua Beach Hotel ini.

Satu lagi yang masih dilestarikan adalah patung kolam air mancur di dalam hotel seperti foto diatas. Lokasinya dekat dengan tempat makan. Dan mini theater di tengah taman untuk menonton pertunjukan tari Barong, kecak atau untuk dinner under the moon dengan harga tertentu.

Di bagian belakang deket pantai ada Cafe Tamarind, bangunan baru yang terbuat dari bambu dengan atap ijuk yang jadi vocal point hotel ini dari arah pantai. Menurut saya bangunan ini keren banget. Terdiri dari 2 lantai tempat tamu minum2 sambil ngobrol di pinggir pantai. Sayang saya nggak foto bagian dalamnya. Kalau diliat sepintas mirip sekolah alam yang ada di Ubud ya atau bangunan khas Lombok. Kayaknya di bali lagi trend bangunan alam kayak gitu.

 

tamarind2
source: http://www.nusaduahotel.com

Kami dapat kamar  tipe premier. Secara size sedang aja dan kesannya lumayan “Bali” dengan banyak ornamen kayu dan ukiran.

Honestly hotel ini cukup nyaman untuk ditempati. Seperti layaknya hotel bintang lima yg ada di Nusadua, fasilitasnya lengkap. Seperti yang suami saya perhatikan sebelumnya, hotel ini emang luas banget. Bentuk bangunannya 4/5 lantai berundak ke atas kayak sawah terasering, makin ke atas mengecil. Tamannya luas dan di beberapa spot ada kolam- kolam ikan.

Kami dapat kamar yang menghadap taman samping. Setiap pagi pasti ada tupai2 yg mampir ke balkon kamar minta sarapan biskuitnya adik A. Dan di taman bawah ada rombongan soang yang abis berenang di kolam trus minta makan di area breakfast.

Oh oya menurut saya breakfastnya rasanya biasa aja, pilihan menunya masih lebih banyak hotel tetangga.

Kolam renangnya ada beberapa tipe dan ukurannya cukup besar: kolam besar, kolam basket, kolam pasir yg bisa dipakai main voli dan kolam anak.

Playgroundnya ada di belakang deket pantai. Mainannya cukup lengkap, baru dan terawat. Alasnya berpasir dan ada bale untuk duduk2/nunggu anak2 main.

Di deket kolam renang ada kids club. Saya dan anak2 sempet main 1/2 jam. Mas B kurang suka main di kids club ini karena dia bilang mainannya jelek. Hahaha. Maap yaa tapi emang kualitasnya kurang bagus sih untuk sekelas hotel bintang lima.

Sebenernya di kids club ini kita bisa nitipin anak supaya mereka bisa ikut berbagai program yang ditawarkan. Gratis untuk penghuni hotel. Ada schedule permainan apa aja di hari itu dan waktu kapan anak bisa datang dan dijemput lagi. Kegiatannya antara lain art and craft, menonton video, belajar bahasa Indonesia, membatik, melukis, costume party, membuat kue dll.

Waktu kami main disana, ada 2 anak bule yang lagi bikin art and craft bersama keepernya. Tapi namapun mas B nggak suka art and craft dan keepernya menurut saya kurang ramah jadi ya saya biarin aja mas B main mainan yang ada disitu. Itupun cuma 1/2 jam aja karena pas jam makan siang kids clubnya tutup.

Kids club ini terdiri dari 2 ruangan: ruang 1 untuk main dan bikin art and craft, ruang ke 2 untuk nonton video dan anak2 istirahat/tidur karena disediain bantal2 dan kasur.

Di pantai Nusadua Beach Hotel ini lagi ada penangkaran telur penyu. Telurnya baru aja dierami sejak Juli 2016 dan rencana menetas di pertengahan bulan September 2016 which is harusnya di minggu ini. Katanya ada 100an telur yang ada di dalam pasir itu.  Keren yaa, peduli dengan lingkungan..

Kegiatan kami selama di hotel yaa mantai, berenang dan leyeh2 aja..kalau pagi kadang suka jalan2 nyusurin pantai tapi nggak jauh2. Kali ini saya nggak joging kayak 2 tahun lalu. Jagain 2 anak aja uda bikin gembrobyos dan pinggang rontok kok. Nggak perlu joging lagi lemaknya udah luruh kayaknya, hahahaha…

Di area deket air mancur ada pameran dan bazaar kesenian. Setiap sore biasanya dagangannya digelar untuk menarik wisatawan belanja. Ada lukisan, kerajinan kayu, telur lukis dan souvenir2 baju yang sering kita liat di toko/pasar souvenir, tentunya dengan harga yang lebib mahal kelas hotel Nusadua. Saya sih liat2 aja…

Ada 1 hal yang menurut saya perlu diperbaiki yaitu standard hospitalitynya. Ketulusan dan kesamaan atau tidak membedakan dalam melayani kami tamu lokal dibanding tamu mancanegara. Dari hal2 kecil seperti senyum, sapa dan willingness to help. I can see from the gesture and eyes kok yang tulus sama yang “terpaksa” atau kurang menghargai.

Selain itu kecekatan dan kecepatan merapikan area breakfast juga kayaknya perlu lebih ditingkatin. Udah hal yang lumrah lah yaa jam-jam 8-10 itu kan lagi penuh2nya orang sarapan. Gimana ya, kurang sigap dan sregep gitu. Gemes kan jadinya saya pengen bantu beres2in.

Hhhmm, ibu menyusui lagi sensitif nih nggak disenyumin penuh curiga setiap ditanya “ibu dari kamar nomer berapa?”  Dipikirnya tamu numpang lewat kaliyaaa, hahahaha……

Author:

i'm an ordinary mom & wife with ultraordinary love..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s