Posted in Daily stories

Don’t Judge a book by its cover but I do

Sekali-kali posting diluar soal keluarga dan parenting aaaah…

Judge 1
Jadi ceritanya bulan lalu saya ikut kompetisi pegawai di kantor yang salah satu proses seleksinya berupa outbound. Saat outbound itu divisi saya digabung dengan divisi lain (Sebut saja divisi B) yang notabene mayoritas orang2nya saya baru kenal saat itu. Beberapa orang saya familiar dan kenal muka karena sering papasan di lift/kantor, tapi banyak juga yang saya nggak kenal karena pekerjaannya nggak pernah berhubungan langsung.

Pada saat outbound itu, pembagian timnya dicampur antara divisi saya dengan divisi B dari berbagai jabatan mulai dari rendah ke tinggi — assistant manager, manager, Assistant Vice President (AVP) dan Vice President (VP) dan rentang usianya late 20 to early 50 years old. Kebetulan tim saya terdiri dari 4 orang perempuan dari divisi saya plus 7 orang laki dan perempuan dari divisi B, dan disitulah baru kita kenalan secara resmi. Kita sepakat yang jadi ketua di tim saya itu bapak C dari divisi B yang kebetulan jabatannya sudah VP atau jabatan tertinggi di kompetisi ini.

Setelah bermain beberapa games, saya ngerasa tim saya ini kok rada melempem ya, underdog, di awal games menang tapi seterusnya kok performanya makin turun dan jadinya sering kalah. Pas break di tempat penginapan, saya ngegosip sama temen2 divisi saya, lebih ke diskusi sebenernya, kenapa kok tim kita bisa melempem.
Kesimpulannya, temen2 saya ngerasain hal yang sama kayak saya. Beberapa penyebabnya:
1. Kelompok saya ini kurang kompak, terlalu banyak planning, kelamaan eksekusi
2. Bapak C sebagai ketua tim kurang memberi kepercayaan secara merata ke anggota tim. Beliau hanya fokus sama 2-3 orang saja dari divisi B. Jadi saya dan temen2 saya yang notabene dari divisi berbeda kesannya nggak dianggap. Tapi saya juga ngerasain, temen2 divisi B diluar dari 2-3 orang itu juga kayak dicuekin gituloh. Naaaah, dari sini kita jadi penasaran doonk sebenernya si 2-3 orang itu siapa siiiih? jeng.. jeng.. jeng.. naluri detective mulai beraksi

Dari 2-3 orang “kepercayaan” ini, ada 1 orang yang cukup menonjol tapi kita ngerasanya ini orang kok agak blagu ya, siapa sih dese? Hahahah kepo banget yaaa. Perawakannya tinggi kurus tipe anak basket, masih muda around 28-30 gitu, muka tengil, a little bit bossy. Kita sih uda skepstis aja pikirannya, halaah paling juga dese anak kemarin sore yang luckily dapet kepercayaan ‘lebih’ dari seorang VP dibanding temen2nya yang lain, makanya jadi blagu. Tebak-tebakan sama temen saya, paling juga dese posisinya kalo nggak Asisstant manager, paling mentok manager yaa. Jiyaaah, nyinyir banget ya kita? kita? elo aja kali shin sama temen2 lo, hahahaha, muke lo jauuuh..

Selesai acara outbound, beberapa minggu kemudian, proses seleksi dilanjutin workshop in-class dan kali ini pembagian kelompoknya berdasarkan jabatan. Jadi 1 meja untuk VP, 1 meja AVP, 2 meja Mgr dan 2 meja Ass. Mgr. Saya dan temen2 uda menduduki posisi meja masing2 dan tiba2 ada seonggok pria kurus tinggi si pemain basket itu dateng telat ke dalam ruangan, kucluk kucluk jalan pelan sambil clingak clinguk cari name signnya dan sekonyong-konyong dese jalan menuju ke mejaaaaaaa……. A.. V.. P! DOWER! BLAR! POW! SKRCTH! seketika kilat menyambar, gledek menderu-deru diatas kepala saya dan teman2 saya yang saling bengong pandang2an. Amsyooooooong, ternyata dese AVP book!.. Hahahaha, makanya selotip tuh bibir nyinyir.

Judge 2
Masih di workshop in-class itu, kami semua diajar oleh psikolog dari salah satu lembaga Management. Ibu psikolog yang mengajar saat itu bodynya tinggi besar (11-12 sama saya, agak lebih besar dia dikiiit, uhuk :p), pake dress batik selutut, rambutnya pendek tersisir rapi, penampilannya cukup anggun, wawasannya luas, bahasanya lugas, cukup luwes menjawab pertanyaan dari peserta tapi ada kakunya sedikit. Tipikal ibu-ibu dosen senior gitu deh.

Lucunya waktu beliau kasih masukan ke peserta untuk lebih relax dan banyak senyum disaat wawancara/presentasi, beliau menyampaikannya tetap dengan cara yang kaku dan senyum tapi sedikiiit banget. Hahaha. Di meja belakang, saya sama temen saya uda kasak kusuk mulai gosip sambil colek2an. Haduuh, pegawai macam apa sih saya ini yaa, kerja kok malah main-main sama ngegosip. Hahahaha. Tuuh kan malah ketawa sendiri.

Selesai workshop, kami balik kerja lagi ke divisi maing2. Sampai di kubikel, nggak berapa lama tetiba temen saya teriak “mbak Shin, lo tau nggak, si ibu psikolog tadi itu adiknya mas Bobs looh” dan saya-pun langsung kaget “say, whaaaattttt!?!?!? adiknya mas bobs? adiknya?? ibu-ibu itu?? seriuss loo??” dan saya langsung ngacir nyamperin mas Bobs untuk konfirmasi.

Jadi yaa saudara-saudara, mas Bobs ini rekan kerja saya 1 divisi yang usianya sekitar 42 tahun. Berjiwa muda, gayanya santai, jago nyanyi nge-rock tapi kadang suka didaulat jadi pembaca doa juga, asik lah pokoknya. Trus saya langsung tanya donk “emang bener yang ngajar kita tadi adiknya om bobs? kok bisa? kok beda banget sama kakaknya? kok gayanya kayak ibu-ibu banget? kok keliatan lebih “senior” adiknya daripada kakaknya? kok begina kok begini kok begitu tu tu tu?” Pokoknya kepo to the max laaaah….

Dan dengan santainya mas Bobs jawab ” iya, yg ngajar kalian tadi itu adikku, lulusan S2 psikolog, dosen di kampusnya dan uda pengalaman ngajar di perusahaan2 ternama” dan yang lebih mengejutkan lagi kalimat terakhirnya donk “Dia kira2 seumuran sama mbak Shinta gitu deh” … APAAAA?? SEUMURAN SAMA GUE?? BECANDA LO?? Eeeh TA TA TA TA PI, gayanya dia kan IBUK-IBUK banget! HELLOOWW, coba donk lo ngaca cyiiiin, lo kira lo ABG?! eling buuk eling… qkqkqkqkqkqkqkqkqk… *denial kok kebangetan. Aduuh maap yaa, walopun uda status ibu-ibu gini tapi gaya masih nyeleneh nggak puguh gini, bikin cacat status deeh. Yaa begimane doonk, bawaan eike emang yummy rawcky classy sexy mommy gak bisa laah disuruh sasakan tinggi bak jambul khatulistiwa hahahah wasaiwaa…

Akhir cerita kita cuma bisa ngakak bareng aja banyak yang kecele gara2 penampilan seseorang. On the other hand, kalau saya tanya sama temen saya yang anak2 baru, dulu waktu pertama kali kenal sama saya, kesannya gimana sih? Dan relatif semua jawabannya mirip “Jutek mbak”… Bwahahhahahaha, dasar kutukupreeet…….

Ada yang punya pengalaman salah nge-judge cover kayak saya nggak?

Advertisements

Author:

i'm an ordinary mom & wife with ultraordinary love..

10 thoughts on “Don’t Judge a book by its cover but I do

  1. Gue pernah, Shin. Waktu itu baru jadi Program Supervisor di radio tempat kerja. Pas meeting manajerial, gue ngomel sama satu orang yang masih muda, klemar-klemer, cengengesan,dan main hp doang kerjaannya. Pokoknya selama meeting gue ‘nembak’ doi minta ide dan gagasan buat program radio. Dan masalahnya itu orang cuma cengengesan doang. Nggak enak, deh, meetingnya.

    Pas keluar dari ruangan meeting, gue ke pantry, merepet ke sahabat. Selesai ngomel, teman gue bilang “Bok, itu si R. Anaknya owner..”

    *DUAR*

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s