Posted in Review, Travel stories

Jogja | Ullen Sentalu

image

Hari Rabu kita sengaja sewa mobil untuk jalan2 dipandu sama sepupu saya yg tinggal di Jogja. Tujuan pertama ke museum Ullen Sentalu . Udah sering denger museum ini dari temen2 saya sebagai obyek wisata yang wajib dikunjungi. Tanpa ceki-ceki dulu kalau ternyata museun ini ada webnya, langsung deh cuss kesana with zero information. Perjalanan cukup jauh yaa ke arah Kaliurang, tapi asik sih pemandangan dan udaranya dingin kayak di Puncak atau Ubud gitu.

Sampai di Ullen Sentalu langsung bengong…. heeeeh, mana museumnya? cuma ada bukit sama pepohonan macam mau masuk kebun binatang gini. Eitss teryata museumnya ada dibalik bukit itu. Sebelumnya kita bayar tiket dulu Rp. 30 ribu/orang, anak seusia Baron masih gratis. Di dalam museum kita dilarang membawa makanan/minuman, HP wajib di silent, not allowed to take any picture either using camera, HP or any kind of gadget apalagi ngerekam video, highly prohibited. Spot yang boleh untuk foto2 hanya di gerbang depan sama selasar dekat pintu keluar. Last but not least, no tipping for tour guide.

Harga tiket tersebut sudah termasuk jasa tour guide. Jadi mekanisme masuk ke dalam museum ini dibagi per kelompok. 1 kelompok terdiri dari maksimum 20 orang untuk 1 jam tour. Kelompok kita kemarin kira2 ada 10 orang termasuk keluarga saya. Jadi kalau kelompok pertama belum selesai muter, maka kelompok kedua harus menunggu sampai ada aba2 boleh masuk ke dalam museum. Hal ini untuk menghindari terjadinya keramaian, overlap informasi dan hilang arah pada saat masuk ke dalam museum yang terbagi menjadi beberapa bagian ini.

Ullen Sentalu itu apa sih?

Sesuai info di web dan dari tour guidenya, Ullen Sentalu sendiri mempunyai arti nyala blencong (semacam lampu petromaks) yang menerangi. Museum Ullen Sentalu merupakan sebuah konsep dari misi pelestarian nilai dan martabat budaya Jawa. Merupakan suatu komunikator dari suatu kekayaan warisan tangible dan khususnya intangible, sehingga terjadi pertemuan antara pewaris dan warisan budaya.

Museum ini dimiliki oleh perorangan, yaitu keluarga Haryono dan dikelola oleh pihak swasta. Apa kesan-kesannya masuk ke museum Ullen Sentalu ini? CHAOS!! Haaaah?? kok bisa?? Yaaah manapun bawa anak kecil near 4 tahun yang sangat cerewet, berisik dan gak berhenti nanya ina ini itu, yaa nggak cuma ke ibuk, mbak atau eyangnya tapi juga ngajakin ngobrol pengunjung yang 1 kelompok sama kita dan tour guidenya, ya manalaaah bisa tour guide nerangin sambil ngejawab pertanyaan yaa seuusss…

“ini apa buk, itu jalan kemana, raja rumahnya dimana, raja itu siapa, putri itu apa, kita mau kemana, ini rumahnya siapa, gua itu apa, kok guanya gelap, patung apa itu ibuk, tante namanya siapa, tante rumahnya dimana, jogja itu dimana, colo rumahnya eyang kakung, endesbrei endesbrei”… mmmbbbrrr…

Apalagi pas masuk ke dalam ruang peraga yang langit2nya cukup tinggi, kesenengan teriak-teriak malahan karena suaranya menggema “ibuuu, suara mas Baron gemaa.. aaa… aaa… aaa” *tutup kuping*

Untungnya pengunjung yang 1 kelompok sama kita nggak terlalu terganggu dengan adanya Baron, mereka malah seneng. Kebetulan yang 1 itu pasangan pengantin baru yang lagi honeymoon dan 4 orang lagi bapak2 dari Sumatra lagi jalan2 ke Jogja. Mereka seneng diajak ngobrol sama Baron dan pas sampe di selasar terakhir, mereka malah minta foto bareng sama Baron. Dan herannya anak kecil ini yaa, giliran ibunya ngajakin foto bareng gak mau loh, malah ngumpet2 dibelakang badan kita, eeeh giliran orang lain yang ngajakin foto malah pasang aksi senyum 2 jari. Heudeuuuuh…. *teuteup pesan sponsor 2 jari aja* 😉

Jadiii, selama tour saya dan mbaknya berusaha mengalihkan perhatian Baron supaya bisa agak ssseellooowww dikiiiiit nanyanya. Kadang-kadang saya bawa jalan duluan di depan supaya kalau Baron ngomong suaranya nggak terlalu menggema dan nggak mengganggu suara tour guide. Kalau lagi masuk ke ruangan, saya tunggu diluar aja sambil ngajakin ngobrol Baron. 50% nggak bisa konsen deh pokoknya.

Overall, saya sih suka sama museum Ullen Sentalu ini. Koleksinya tertata, tersusun rapi dan terawat. Tour guide cukup profesional dan sangat ramah, walaupun pengetahuan sejarahnya masih kurang dalam dibanding bapak saya tapi cukup knowlegable laah untuk turis awam macam saya.

Koleksinya yang saya liat banyak patung2, lukisan2, batik2, surat2 berharga, foto2, kostum2 kerajaan dll. Informasi yang disampaikan lebih kepada sejarah kerajaan Mataram sebagai nenek moyang terbentuknya kerajaan Surakarta (kasunanan Pakubuwono dan Mangkunegaran) dan kerajaan Jogjakarta (kasunanan Hamengkubuwono dan Pakualam) yang ada sekarang. Sigh, aslik parah banget deh pengetahuan sejarah saya.

Ada 1 putri kerajaan yang menarik perhatian saya, nama ngetopnya Gusti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumawardhani, puteri cantik dari Mangkunegaran, anak Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Mangkunegoro VII. Keren yaa namanya, nanti kalau punya anak perempuan aku kasih nama itu aja deh. *finger cross* . Gusti Nurul ini subhanallah cantiknya minta ampun. Asli Jawa tapi mukanya kayak ada indo-indonya gitu. Aslik cantik, pinter dan beliau ini anti poligami. Presiden RI pertama Soekarno aja sempet naksir looh, jadi terbukti laah cantiknya. Sampai sekarang, gusti Nurul masih hidup, sehat dan cantiknya awet. Langsung googling deh soal Gusti Nurul ini.

Layout museum ini menurut saya cukup menarik ya. Dibangun dengan konsep arsitektural lokal yang cukup sarat makna simbolik jaman kerajaan berpadu dengan gaya Eropa bekas jajahan Belanda jaman perang dulu, ditambah udara yang cukup dingin, kesannya jadi adeeem gitu. Di lorong terakhir itu malah kesannya kayak di lorong ITB jurusan desain yang banyak tiang2 berbatu itu. Huh, macam kau pernah sekolah di ITB aja buuk 😛

Waktu 1 jam jalan kaki keluar masuk museum jadi nggak terasa capek, agak haus aja sih 🙂

Yang cukup menarik juga pas sampe di selasar terakhir, seperti foto diatas itu, ada ukiran batu besar yang dipasang miring ke kiri seperti mau jatuh. Itu memang sengaja dipasang seperti itu, sebagai simbol rasa prihatin pemilik museum dan pembuat ukiran atas ketidakpedulian masyarakat masa kini akan sejarah bangsanya. Deeeuuu, segitunya yaaa. Hayooo, yang ngaku anak jaman sekarang yang gak peduli sejarah tunjuk iduuuung *ngacung 🙂

Museum Ullen Sentalu is a must have visit, tapi sebelumnya saya saran untuk mengunjungi keraton Solo dan keraton Jogja dulu supaya pengetahuan sejarahnya nyambung. Informasi lebih lengkap tentang Ullen Sentalu, please kindly visit webnya di Ullen Sentalu

Next we’re gonna see bekas meletusnya gunung Merapi tapi nggak sampe ke tempat mbak Marijan ssih cuma menclok di parkirannya doank 😛 , trus makan di Jejamuran, makan jadah tempe yang endeusssssnya naujubilah, gowes becak lampu di alun-alun kraton sama review soal Royal Ambarrukmo. There’ s still a lot of story to write. Pareeeeng……

 

image

Advertisements

Author:

i'm an ordinary mom & wife with ultraordinary love..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s