Posted in Daily stories

The most peaceful and beautiful funeral for our beloved bapak

——–> Lanjutan dari sini

Selasa, 27 Mei 2014 Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW

Dini hari tepat jam 12 malam, peti jenasah alm. bapak dimasukkan ke dalam kargo pesawat di bandara. Jam 7 pagi, 9 pagi dan 11 siang keluarga besar kami berangkat ke Solo sesuai flight masing2. Ya, karena kondisi mendesak, kami nggak bisa berangkat dalam waktu bersamaan. Saya, Baron, mbak sut dan om saya dapat giliran terakhir di jam 11 siang. Perasaan hari itu bener-bener gak santai banget. Saya yang biasanya ke Solo untuk berlibur dan bersenang-senang, sekarang harus mengantarkan bapak ke peristirahatan terakhirnya.

Sambil menunggu waktu boarding, saya habiskan waktu bermain sama Baron. Tapi ada kalanya disaat saya lagi bengong, tiba2 pikiran saya flashback ke masa lalu, jadi inget lagi masa2 menunggui bapak di Rumah Sakit, jadi mikir lagi segala sesuatu yang belum saya sampaikan ke bapak. Belum lagi kalau saya coba memejamkan mata sebentar untuk tidur malah tambah parah! film semua kenangan dan perjalanan hidup bersama bapak berasa berputar lagi.

Everything will not gonna be the same without him.

Dan di dalam pesawat pun saya menangis.

Sesampainya di Solo, ternyata semua menunggu kedatangan rombongan saya. Setelah sholat jenasah yang kesekian kalinya (dengan yang kemarin), kami sekeluarga melaksanakan ritual brobosan (adat Jawa) dan untuk terakhir kalinya saya cium pipi bapak sebelum peti jenasah ditutup.

Jenasah bapak dimakamkan di pemakaman Pracimoloyo, Solo. Makamnya tepat di sebelah makam eyang Joyo putri (ibu dari bapak) dan eyang Joyo kakung yang saya nggak sempat kenal sebelumnya. Yaa, bapak adalah anak laki tertua dan paling disayang oleh eyang saya. Bapak dulu berjuang bersama eyang dan bude2 (kakak perempuan bapak) untuk memenuhi kehidupan keluarga dan menyekolahkan adik2nya sampai sarjana (13 bersaudara dari 2 keluarga eyang: Krijodinomo dan Djojosisworo).

Sebenernya, makam ibu dan bapak saya sudah disiapkan oleh eyang dari pihak ibu di pemakaman keluarga dari pihak ibu (hanya berjarak 10-20 meter dari makam keluarga bapak), diletakkan berdampingan, tapi kami sepakat untuk menempatkan makam bapak dekat dengan ibunya sebagai bentuk pernghormatan.

Jenasah bapak diturunkan ke dalam liang lahat oleh adik laki saya, mas D dan penjaga makam. Untuk pertama kalinya saya merasakan suasana yang sangat syahdu, damai, tenang di saat adik laki saya mengumandangkan adzan di dalam liang lahat bapak di hari yang suci Isra Mi’raj Nabi besar Muhammad SAW. Kebetulan hari itu cuaca amat sangat bersahabat. Matahari bersinar nggak terlalu terik, banyak pohon kamboja rindang di sekeling makam, angin bertiup sepoi-sepoi bikin udara tambah sejuk. Setelah seluruh prosesi selesai dan saatnya tabur bunga, Subhanallah, Alhamdulillah, sayup2 terdengar suara adzan ashar dari masjid di dekat pemakaman. Seketika bergetar hati saya.

The most sacred moment indeed. Indah banget!

1
Baju B/W & jeans yang sempet batal dipake di 26 Mei 2014

Alhamdulillah ya Allah untuk segalanya, atas segala yang TERBAIK yang engkau berikan, segala sesuatunya begitu amat sangat dimudahkan baik bagi bapak maupun bagi kami yang ditinggalkan.

TERBAIK! Satu kata yang selalu disebutkan almarhum di setiap doanya. TERBAIK! Kata yang bapak ucapkan disaat perkenalan keluarga mas D kepada keluarga saya. Di dalam pidatonya, bapak menyampaikan bahwa mas D adalah jodoh yang TERBAIK yang Allah berikan kepada saya dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

“Kalau kamu berdoa mengharapkan sesuatu kepada Allah SWT, janganlah kamu meminta sesuatu dengan apa yang kamu mau/inginkan tapi berdoalah untuk sesuatu yang TERBAIK yang dapat Allah berikan untukmu”  pesan bapak kepada kami. Bisa aja bapak mau kamu dapet jodoh yang tajir melintir, yang pinter dan gantengnya selangit tapi kalau Allah bilang bahwa laki2 itu bukanlah yang terbaik untukmu jadi yaa mas D lah yang terbaik untukmu. Alhamdulillah yang TERBAIK untukku itu ternyata beneran pinter dan ganteng, uhuk.  Tajirnya yaa kita usaha sama-sama ya maaasss 🙂

Tahlil hari pertama dan kedua diadakan di Solo dan di hari ketiga tepatnya Kamis, 29 Mei 2014 kami kembali ke Jakarta. Acara tahlil pun dilanjutkan di Jakarta s.d hari ke 7.

Satu hal lagi yang dimudahkan yang saya rasakan adalah pas kita ke Solo itu banyak hari kejepit. Ada 2 hari liburan di hari Selasa dan Kamis, sehingga saya dan adik2 cukup potong cuti kerja 3 hari saja. Sisa jatah cuti bisa dipake untuk keperluan lainnya.

Jumat, 30 Mei 2014

Acara tahlil hari ke-7 ini diadakan di rumah. Alhamdulillah tamu saudara dan teman2 bapak/ibu/adik2 yang datang cukup banyak. Tahlil dipimpin oleh Ustadz Memet dan pembacaan yasin oleh menantunya mas H. Feri. And you know what, Subhanallah, mas Feri membacakan yasin dengan sangat merdunya. Nggak cuma baca buru2 sambil lalu pokoknya biar selesai aja tapi bener2 pelan, penuh penghayatan dan suaranya lantang, jelas, merdu. Top banget lah. Saya yang biasanya suka bandel baca yasin, ngantuk2 sampe ketiduran, ini bener2 melek semelek2nya selesai 83 ayat.

Hmmm, nilai plusnya lagi, mas Feri ganteng bo’. Ini kaliyaa yang bikin mata melek #eh #salahfokus. Iyah, beneran deh. Bukan cuma saya aja yang komentar kalau mas Feri ganteng, tante2 saya juga uda pada kegatelan pengen jodohin ke anak2nya yang perempuan. Hahahaha. Yaaah, manapun uda ganteng, pinter, sholeh, udah haji pulak kan. Hush, suami orang itu taaan….

Kamis, 3 Juli 2014

Seiring berjalannya waktu nggak terasa, sampai juga di acara tahlil 40 hari mengenang kepulangan Bapak, di hari ke-5 bulan suci Ramadhan.  Acara dimulai dengan buka puasa bersama, tarawih dan tahlil. Subhanallah. Another great and sacred moment for Bapak.

Our first Ramadhan without bapak.

Sebelumnya saya dan Ibu ke Pasar Tebet untuk membuat surat yasin. Nggak nyangka, 6 tahun yang lalu saya ke Pasar Tebet untuk bikin surat undangan perkawinan, dan tahun ini ke Pasar Tebet lagi untuk buat surat yasin bapak. Setelah memilih desain dan bahan cover surat yasin, lalu saya bikin konsep ucapan terima kasih, layout foto  dan informasi lain yang diperlukan di dalam surat yasin tersebut. Feel so blessed and honored.

Alhamdulillah, surat yasin jadi tepat waktu dan hasilnya keren bangett! Lebih keren daripada cetakan undangan saya.

Di saat saya mendampingi ibu saya dari awal sampai tahlil 40 hari kemarin, Ibu saya terlihat sangat tabah, kuat, tegar dan Ikhlas Lillahi Ta’ala. Beliau dapat menahan emosi selama menemani para tamu. Mata berkaca-kaca iya, wajar, tapi tidak menangis yang tersedu-sedu. But overall, seolah dapet kekuatan yang entah darimana datangnya saya lihat adik2 saya pun demikian.

As for me, i feel the same way too. Feel awkward though.  Salah nggak sih saya kalau nggak nangis netesin air mata? Mungkinkah ini yang namanya ikhlas?

Tapi jangan tanya kalau saya lagi sendiri dan merenung. Terutama di saat sholat dan baca doa. Saya menangis. Saya yakin ibu saya pun menangis.

Tahlil 40 hari lagi2 dipimpin oleh ustadz Memet dan mas Feri dengan bacaan yasin-nya yang merdu.

Di saat saya berusaha menata hati dan menguatkan diri, hati ini jadi lemah lagi disaat banyak orang menanyakan hal yang sama tentang kronologis kepergian bapak lagi dan lagi atau mengenang kesan2 mereka terhadap bapak atau feel sorry about us. We I try to understand about it. Bentuk perhatian yang sempat saya salah artikan karena bikin saya sedih lagi. “Plis deeh, udah dooonk”  pikir saya. Astaghfirullah allazim. Nggak seharusnya saya begitu.

Hal yang paling saya hindari untuk dipikirin dan diucapin adalah kata SEANDAINYA…… Setiap saya ngobrol sama saudara atau temen dengan kata seandainya…… , pasti nggak sanggup nerusin lagi.

Yang berlalu sudah berlalu dan waktu nggak akan berputar kembali.

— — — — — — — — — — — — — — — — — — — —

Saya nggak akan pernah lupa kesan2 dari orang2 di sekeliling kami terhadap almarhum bapak. Saya coba ingat2 dan list lagi yaa.

  • Suster temporer yang sempat merawat bapak di RS selama seminggu nangis tersedu2 karena teringat bapak dikala lagi lahap2nya disuapin makan, disaat Bapak mengucapkan “Terima Kasih” karena sudah dibantu merawat, waktu Bapak ngelucu disaat temannya jenguk, waktu lagi semangat2nya nonton piala Thomas & Uber dan mendukung Jokowi nyaleg *salam2jari.
  • Betapa berkesannya mantan anak buah bapak mengenang masa lalu bersama bapak, dibela2in datang dari jauh dan menyempatkan untuk nyekar ke Solo, sendiri.
  • Sahabat bapak malah ada yang tidak tega kuat untuk datang melayat ke rumah.
  • Group D’seniors (klub menyanyi bapak) setiap dengar lagu2 60s yang sering dinyanyiin bapak pasti terharu “kalau denger lagu ini jadi inget almarhum pak Slameto”. Yaa saya pun demikian om/tante.
  • Bapak mertua adik saya pun merasa sangat sedih dan kehilangan teman ngobrol di saat kami merayakan Ulang Tahun Ibu, 22 Juni 2014 yang lalu. The very 1st Ibu birthday without Bapak.

Oke, sambil menulis ini, saya jadi sedih lagi. Damn 😦

— — — — — — — — — — — — — — — — — — — —

Gusti Allah mboten sare. He’s the only one who knows the best for his people. Saya ngerasa banyak banget kemudahan yang Allah kasih ke saya dan keluarga saya.

Setelah balik dari Solo, saya kan kerja lagi. Selama sebulan penuh ini, saya pikir saya udah bisa istirahat untuk merecharge fisik dan batin saya. Kok ya dilalah, malah pekerjaan saya lagi banyak2nya dan urgent semua. Saya dihadapkan pada situasi yang lagi2 mengharuskan saya pulang malam. Padahal selama ini, saya terbiasa pulang tanggo. Dunno. mungkin ini emang jalan yang Allah kasih supaya saya nggak terus2an berduka terlalu lama dan mengingat terus2an apa yang baru aja dilewatin. Pikiran ini selalu dipenuhi sama urusan kerjaan aja.  Pendingan baru mereda menjelang persiapan tahlil 40 hari itu, makanya saya baru bisa mikir lagi untuk ngeblog mengenai ini.

Blessing in disguise juga, Ibu saya ditemani oleh orang2 terdekat yang juga udah ditinggalkan oleh pasangannya. Antara lain ibu mertua saya, mbak sut, bude dan saudara sepupu saya. At least, ada tempat curhat dan ngobrol dengan kondisi yang serupa.  Saya pun juga berusaha cari kekuatan diri dengan berkaca pada bestfriends saya yang udah dtinggalkan oleh orang tua mereka. Iyes, 4 bestfriends saya yatim/piatu/yatim piatu sejak lama. Saya belajar banyak untuk struggle dari mereka.

Coincidently, saya baca artikel di Mommies Daily Menikmati masa berduka dari Maya Mulyadi yang baru aja berduka atas kepulangan ibunda tercinta. Learn a lot from it.

Baron sendiri gimana? As he still doesn’t understand the situation, everytime he asked about his eyang kakung, we always answer “Eyang Kakung lagi di Solo”.  Yes, eyang kakung ada di Solo, tempat dimana beliau dilahirkan dan disana pulalah beliau dikebumikan.

— — — — — — — — — — — — — — — — — — — —

tarawih
Suasana tarawih – buka puasa dan tahlil 40 hari, 3 Juli 2014

Rasulullah SWA bersadba:

Bila seseorang telah meninggal, terputuslah untuknya pahala segala amal, kecuali dari tiga hal yang kekal (Riwayat Imam Bukhari dan Muslim):

  1. Shadaqah jariah
  2. Ilmu yang bermanfaat dan
  3. Anak sholeh yang senantiasa mendo’akannya

“……… Dan akan dihapus dosa-dosa orang yang telah tiada berkat 40 orang yang ikhlas mendoakannya” ustadz Memet.

Insya Allah tidak akan terputus doa dari kami anak2 bapak. Hidup masih berlanjut dan masih ada tanggung jawab kami selanjutnya untuk menjaga kesehatan ibu kami tercinta.

Aamin Ya Rabbal Alamin..

Advertisements

Author:

i'm an ordinary mom & wife with ultraordinary love..

9 thoughts on “The most peaceful and beautiful funeral for our beloved bapak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s