Posted in Daily stories

Be a part of social community

Gak pernah terpikir sebelumnya sama saya bahwa kegiatan seperti arisan, pertemuan warga, olahraga bersama para tetangga bakal saya geluti juga. Kegiatan yg selama ini saya pikir cuma dilakukan oleh ibu saya yg notabene ibu rumah tangga yg aktivitasnya lebih sibuk daripada anak2nya yg pekerja kantoran.

Yup, ibu saya ibu rumah tangga yg sangat aktif di berbagai kegiatan mulai dari asisten sekretaris RT (yg tidak lain bapak saya), sekretaris Dharma Wanita (dikala bapak blum pensiun), pengurus/ketua senam jantung sehat di komplek, senam aerobik setiap hari selasa-kamis di rumah bersama 6 org tetangga, pengajian, arisan, pengurus ikatan istri insinyur (PIII), mendampingi bapak ikut berbagai komunitas hobi menyanyi dan menari para pensiunan dll.

Beliau melakukan semua itu bukan tanpa alasan. Sebagai wanita yg dulunya pemalu dan pendiam, perlu beberapa adaptasi yg dilakukan sehingga beliau bisa melakukan semua kegiatan tersebut.

Salahsatu pesan yang pernah disampaikan ibu terkait kegiatan yg diikuti tersebut “kita hidup di dunia ini tidak sendiri, kita butuh bantuan banyak orang dan begitupun sebaliknya. Walaupun ibu dulunya gak banyak ngomong tapi ternyata komunikasi itu penting. Ibu banyak belajar dari ikut kegiatan2 itu dan kamu juga harus belajar hidup bersosialisasi terutama dengan lingkungan terdekat yaitu tetangga. Untuk kegiatan di kantor, semata2 ibu lakukan untuk membantu karir bapak. Walaupun sedikit kontribusi tapi paling tidak, ada artinya”

Seperti yang kita ketahui bersama, hidup bersosialisasi di Jakarta itu gampang2 susah. Tingkat individualisme yg semakin tinggi, lingkungan sekitar rumah yg semakin nggak nyaman dan aman, perkembangan teknologi yg semakin canggih memunculkan kondisi ‘menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh’.

Sejak menikah dan pindah rumah, mau nggak mau saya berusaha be a part of social community. Belajar bagaimana hidup bertetangga dan bersosialisasi. Kadang kalo dipikir suka males yaa tapi saya ingat lagi pesen ibu saya, so i try.

Ikut arisan di cluster, pertemuan warga setiap 3 bulan sekali, joging bersama yg rencananya sebulan sekali tp kenyataannya setahun sekali, arisan ex priskoolnya Baron (yang ini uda off), ikut membantu kepanitiaan tujuh belasan dan ibu Dirjen kantor suami pun uda lirik2 disuruh join Dharma Wanita. Ga sebanyak ibu saya tapi at least better do a little than nothing at all.

Dan setelah saya jalani, asik juga looh. Saya jadi banyak kenal tetangga dekat rumah dan bahkan beberapa blok yang cukup jauh. Saya jadi tau info2 seputar lingkungan rumah misalnya kelahiran, pernikahan, kematian, tetangga yg sakit, tetangga yg kemalingan. Dari join di WA dan BB Group, saya jadi tau kalo tetangga depan rumah saya punya usaha goodiebags gara2 liat profile picnya dan sukses saya pesen waktu ultah Baron tahun lalu. Berkat pertemuan warga saya jadi tau salah satu tetangga saya senior di kampus saya, rekan kerja suami saya dan teman om saya. Berkat joging bersama, saya jadi tau kalo tetangga saya ada yang jago masak bubur manado, ada yg buka usaha jahitan, ada yg rajin golf dan fitness dll. Dan minggu lalu saya menang lomba Zumba di kantor (detail story menyusul) yaa berkat modal pinjem krincingan pinggul bellydance tetangga saya juga. Bikin penampilan jadi makin sip. Krincing krincing. Dan berkat bertetangga pula, saya bisa menitipkan Baron berangkat sekolah bersama 2 temannya yg nggak lain tetangga juga.

Tetangga depan rumah beberapa kali kasih kepercayaan untuk jaga rumah, kasih makan binatang peliharaan, nyalain lampu teras dan titip kunci rumah kalau lagi pergi keluar kota. Ngerepotin? Engga juga sih, selama kami bisa bantu, why not. Simbiosis mutualisme juga pada akhirnya.

Berkat gosip2 tetangga juga jadi tau tempat makan apa aja yg enak, info seputar sekolah, fasilitas umum terdekat sampai drama asisten rumah tangga yg nggak ada abisnya. Kami juga saling berkirim oleh2 dan makanan, lumayan kan jadi ga usah masak, hihihihi.

Lucky me!

Hidup bertetangga juga nggak selamanya mulus ya. Beberapa kali pernah dikomplain juga karena urusan tukang bangunan di sebelah rumah. Ada juga tetangga yg cuek, gak pernah keliatan batang hidungnya, setiap keluar rumah langsung naik ke mobil without saying anything, kurang mau bergaul walaupun sudah dilakukan pendekatan. Padahal saya tau diluar sana, dese nggak kalah aktifnya di kalangan sosialita. Yess, just call me a stalker, qkqkqkqk, kepo banget yaa kesannya. Piss ah.

Whatever, It’s their choice and we try to respect that.

Mudah2an sih be a part of social community ini bisa lebih baik lagi dan kalau bisa berkontribusi lebih yg sifatnya murni sosial.

Well, eeii okey, let yourself get out of your comfort zone, be socialized and take a positive side of it. Ada pepatah bilang “Orang pertama yang akan menolong kita bila ada kesulitan lebih dekat daripada saudara kita sendiri yaitu adalah tetangga kita”.

Advertisements

Author:

i'm an ordinary mom & wife with ultraordinary love..

One thought on “Be a part of social community

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s