Tidak ada anak yang bodoh…

Tidak ada anak yang bodoh. Yang ada hanya anak yang kurang beruntung mendapat kesempatan untuk belajar dari guru yang baik dan metode yang benar.

Jleb! Jleb! Jleb!

Published @ The Urban Mama – edited

Kalimat pertama sebagai pembuka acara bincang-bincang dengan Prof. Yohannes Surya PhD cukup membuka mata dan menggugah rasa penasaran para peserta rapat kerja di kantor saya.

Mungkin sudah banyak yg mengenal siapa pakar fisika ini. Terus terang saya baru mengenal beliau pada saat acara. Pernah mendengar namanya tapi tidak tahu siapa beliau sebenarnya.

Prof Yo semula diundang sebagai motivator bagi para karyawan untuk meningkatkan rasa percaya diri dan memaksimalkan potensi diri dari orang biasa menjadi luar biasa. Namun mengingat sepak terjang prof Yo lebih banyak bersentuhan dengan math, science dan anak-anak, maka pertanyaan pun banyak yang berhubungan dengan metode supaya anak menyukai math dan science, meningkatkan motivasi belajar anak, bagaimana cara mengenal potensi diri anak dan lain sebagainya.

Profesor Yohannes Surya PhD atau prof Yo, seorang profesor lulusan Amerika sekaligus pendidik yang berhasil membawa tim Indonesia menjadi juara Olimpiade Fisika, Matematika dan kejuaraan robotik tingkat dunia, pencipta metode belajar GASING (Gampang Asik dan Menyenangkan) serta pendiri Universitas Surya yang merupakan universitas murni berbasis riset dan mampu menampung anak-anak berprestasi yang menyukai sains.

20140123-214930.jpg

Tim Indonesia ini terdiri dari anak-anak usia sekolah SD s.d SMA. Mungkin akan biasa apabila anak-anak pintar ini memang sudah mempunyai kecerdasan tinggi dan berasal dari kota besar di wilayah Jawa, tapi yang menjadi sangat istimewa adalah anak-anak ini awalnya sama sekali tidak berprestasi, tidak bisa berhitung, tidak mengenal arti pentingnya belajar, bahkan ada yang sampai 4 kali tidak naik kelas dan mereka berasal dari daerah tertinggal yang sangat jauh di Indonesia Timur seperti Papua dan Maluku.

Diawali dengan video yang menceritakan awal prof Yo setamat S3 dan bekerja di salah satu perusahaan terkenal di Amerika, mempunyai hasrat kuat, cita-cita dan mimpi besar untuk kembali ke Indonesia, mendedikasikan dirinya dan menerapkan ilmunya untuk meningkatkan pendidikan anak Indonesia.

Sesampai di Indonesia, prof Yo membentuk tim guna mengikuti kejuaraan Olimpiade Fisika tingkat dunia, mengingat selama beberapa tahun tidak ada peserta dari Asia apalagi Indonesia yang ikut olimpiade tersebut. Menariknya, prof Yo menerima tantangan dari berbagai pihak untuk bisa mendidik anak-anak dari Papua atau daerah tertinggal yang notabene fasilitas pendidikan masih sangat minim, tidak ada kepentingan dan kebutuhan untuk belajar dan untuk pergi ke sekolah pun masih menggunakan koteka.

Prof Yo menerima tantangan tersebut, bahkan punya mimpi besar dan membuktikan bahwa anak-anak Papua bisa menjuarai Olimpiade Fisika tingkat dunia. Mimpinya pun terwujud, tidak hanya tim Indonesia dapat mengikuti Olimpiade Fisika tetapi menjadi juara selama beberapa tahun berturut-turut dan pemenangnya adalah anak-anak Papua yang diasuh tersebut.

Banyak hal menarik yang kami dapat selama sesi tanya jawab dengan prof Yo terkait pola asuh dan metode mendidik anak untuk menyukai science yang seringkali jadi momok menakutkan tidak hanya bagi anak, tapi juga orang tua, terutama pada saat persiapan ujian.

Beberapa diantaranya:

1. Kecerdasan seorang anak itu tidak tergantung pada gen. Gen ada pengaruhnya tapi sangat kecil sekali. Keberhasilan anak itu didapat dari belajar, berusaha dan berdoa. Jangan pernah berhenti untuk mencapai cita-cita atau target yang dituju.

Prof Yo membuktikan hal ini dengan menjadikan ke 3 anaknya sebagai observasi beliau. Anak pertama sejak kecil dididik untuk selalu belajar dan di’gembleng’ sendiri oleh prof Yo. Anak ke 2 hanya diajar oleh prof Yo apabila memang anaknya merasa membutuhkan bantuan. Anak ke 3 sama sekali dilepas untuk belajar sendiri. Dari hasil observasi tersebut, terbukti anak pertama sangat berprestasi dibanding anak ke 2 dan apalagi dengan anak ke 3 yang nilainya dibawah rata-rata kelas, walaupun ketiganya merupakan keturunan bapak seorang profesor. Anak pertama beliau sudah menyelesaikan pendidikan di Amerika S1 neuroscience, S2 fashion dan saat ini sedang menyelesaikan S3 bisnis. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa ilmu science dapat digunakan dalam banyak bidang. Anak kedua baru masuk kuliah S1 dan anak ketiga baru masuk SMP.

2. Kemauan/keinginan anak untuk belajar harus berasal dari kesadaran diri sendiri. Tugas orang tualah yang harus memberikan motivasi positif dan target supaya kesadaran itu muncul. Dalam kasus mendidik anak Papua, prof Yo tidak langsung serta merta mengajarkan math/science ke anak-anak, tapi menciptakan suasana/lingkungan yang menyenangkan terlebih dahulu dengan menghapal rumus sambil bernyanyi. Memberikan wawasan dan pengetahuan akan pentingnya belajar (matematika). Menciptakan kebutuhan dan kondisi kritis/mendesak sehingga anak sadar bahwa belajar itu penting bagi dirinya dan lingkungannya. Setelah kesadaran itu muncul, barulah tugas prof Yo mengajari dan menggali potensi setiap anak sampai berhasil.

Ibarat menanam tanaman di tanah yang gersang, maka yang harus kita lakukan pertama kali adalah menyirami tanah itu dulu dan diberi pupuk supaya gembur. Begitu tanah sudah subur, maka ditanami tanaman apa saja akan tumbuh.

3. Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Belajar itu dari usia kapan saja dan baru akan berhenti setelah kita tiada. Utamanya bagi kita sebagai orang tua ataupun orang yang usianya diatas kita, prof Yo menyarankan agar otak kita selalu terus bekerja dan tidak pikun adalah dengan rajin menghapal lagu, menyanyi dan berhitung (penjumlahan, perkalian, menghitung cepat dan pecahan desimal). Kalkulator jadi nggak laku deh 🙂

4. Seorang anak akan berhasil apabila mendapat metode pembelajaran yang tepat dari ‘guru’ yang hebat.

5. Jangan jadikan seni, bahasa, minat terhadap hobi sebagai pelarian karena tidak bisa science. Banyak anak mengatakan “saya tidak pintar fisika. Saya tidak bisa matematika”. Sebenarnya anak tersebut bukannya tidak bisa atau tidak suka tapi tidak mau berusaha untuk mengerjakan fisika/matematika. Banyak faktor yang mempengaruhi, sehingga pelajaran seni, bahasa dan lainnya dijadikan sebagai pelarian saja, bukan datang dari hati nurani.

6. Tidak boleh mengatakan kepada anak “nilai kamu jelek”. Sebaiknya sebelum memberi penilaian, orang tua terlebih dahulu melihat kemampuan anak. Akan lebih baik mengatakan pada anak “kamu tidak cocok di science”.

7. Apabila anak sudah bersentuhan dengan hiburan dan kemajuan teknologi seperti gadget, mall, TV, games dll sehingga mengganggu proses belajar, maka sentuh hatinya. Buat kondisi kritis dimana anak sadar bahwa belajar lebih penting daripada bermain atau boleh memberikan pilihan belajar dahulu lalu bermain, buat suasana belajar yg menyenangkan, jadikan teknologi sebagai teman.

Saat ini banyak anak Papua dan daerah tertinggal yg menimba ilmu di Universitas Surya. Setelah lulus nanti, mereka akan kembali ke daerah masing-masing untuk mengajarkan anak-anak dan sekaligus mengembangkan daerahnya.

Universitas Surya juga membuka kelas maupun memberikan pelatihan bagi para orang tua dan anak-anak yang ingin belajar dengan metode GASING untuk disebarluaskan ke lingkungan/komunitas masing-masing.

Masih banyak masukan lain yang menarik untuk dibahas lebih lanjut, namun terkendala waktu yg terbatas. Teman-teman kantor saya cukup terkesan dengan pemaparan prof Yo diatas dan tertarik untuk menerapkan metode belajar GASING untuk anak-anak di rumah.

Semoga hasil bincang-bincang ini bermanfaat dan yuk kita sama-sama ciptakan suasana belajar yang gampang, asik dan menyenangkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s