Posted in Travel stories

Journey To Solo – Day 10 | Tradisi nyekar/ziarah

Senin, 11.05.09 • Nyekar/ziarah ke makam Pracimoloyo

Tradisi nyekar/ziarah ke makam keluarga bagi orang Indonesia uda ada sejak jaman dulu, terutama mendekati bulan Ramadhan / hari raya keagamaan lainnya.. Berhubung hari ini hari terakhir saya di Solo maka jam 7 pagi tadi saya & Ibu menyempatkan diri nyekar ke makam keluarga Bapak & Ibu di Praci komplek pemakaman umum terbesar di kota Solo..

Sistem pemakaman disini adl beli lahan tanah sesuai besarnya kapling yg diinginkan (bisa utk bbrp makam dlm 1 keluarga besar).. Biasanya stiap kapling yg didesain khusus (diberi pagar & atap) punya juru kunci sendiri yg bertugas memelihara, menjaga & membersihkan lokasi makam.. Setiap nyekar juru kunci diberi sejumlah uang sebesar ± Rp.20-30rb.. Dan kadang ada beberapa asisten ± 2-3 org yg bantu bersih2 (biasanya anaknya juru kunci / tetangga) dikasih Rp.5rb / seikhlasnya..

Yang cukup unik sekaligus “menyebalkan” kalau lagi nyekar, selesai kami berdoa di makam, banyak sekali penduduk sekitar makam yg ‘nodong’ minta uang (catet: bukan peminta-minta ataupun orang ‘tidak mampu’)..

Seperti yg saya alami siang ini (bukan musimnya nyekar), ada 13 org dewasa & 5 org anak (balita – SMA) yg menurut bahasa saya perlu diberi ‘sumbangan’.. Padahal mereka sama sekali tidak ada kaitannya dgn urusan menjaga makam & entah datang darimana.. Untuk orang2 seperti ini kami biasa memberi se’cukup’nya karena sebenernya mereka gak memberi kontribusi apa2.. ± Rp.1000 utk anak2 & Rp.3000 utk dewasa..

Supir saya yg asli Purwakarta bingung ngeliat fenomena ini & bertanya2..
“Bu, yg ibu2 baju merah tadi kan kyknya abis belanja pulang dari pasar trus belok kesini minta uang sm Ibu..”
“Yg 2 anak cowo naek sepeda itu juga td cuma lewat doank tuh, anak sekolahan tu kyknya..”
“Ngapain ya mereka minta uang, sedangkan kondisi mereka sendiri masih kuat, seger & mampu utk kerja.. Buktinya bisa punya sepeda, rumahnya aja saya liat di blakang makam pada gede2..”

Hmmmmm, bingung juga jawabnya..

Yaaaaaah begitulah kebiasaan disini (atau mungkin di tempat lain saya gaktau).. Apalagi kalau menjelang Ramadhan tiba, kami sekeluarga bisa dikeroyok sama orang sekampung (50-80 orang sekaligus mulai dari balita smp kakek nenek).. Kalau gak dikasih uang mereka akan ngejar smp kami masuk ke dalam mobil/kendaraan (ngalahin wartawan infotainment).. Udah dikasih aja masih ngaku2 bohong blum dikasih/kurang & bakal minta lagi.. Jadi cara yg plg ampuh utk mengatasi org2 ini adl..

Sluruh orang dikumpulkan jadi 1 di kapling makam (di dalam pagar) trus kluar satu2 & dikasih uang.. Untuk org yg uda kluar dari pagar artinya dia udah dikasih uang & gak ada alasan lg utk minta lg (kadang kenyataannya msh ada yg ndesel2 minta lg).. Gak ada bedanya sama pembagian BLT sekarang ini..

Demi selembar uang 1000-3000 mereka rela melakukan ‘hal’ demikian.. Jujur, saya lebih respect sama si juru kunci & asistennya daripada ‘pengikut’2nya ini, tapi saya gak mw bersikap sceptic karena saya belum pernah merasakan menjadi mereka..

Kebutuhan? Kebiasaan? Pemaksaan? Penodongan? Pembohongan? Hanya dia dan Tuhan yang Tahu.. semoga dgn ikhlas & nawaitu yg baik uang seribuan td bs bermanfaat..

— Shinta lagi di executive lounge bandara International Adi Sumarmo (it’s International already ternyataaa, yessss!!!)

Advertisements

Author:

i'm an ordinary mom & wife with ultraordinary love..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s