Posted in Daily stories

Dewi Persik is syariah, isn’t she?

Makin maraknya kasus artis, selebritis & para ulama mengenai kawin siri di dunia infotainment menggelitik hati saya untuk sharing mengenai kawin siri tersebut.. tapi dengan keterbatasan informasi dan sumber yang simpang siur mengenai apa itu kawin siri membuat saya belum punya kesempatan & keberanian untuk mengulas hal kawin siri…

Secara kebetulan hari ini baca postingan teman di FB mengenai kawin siri yang menurut pendapat saya bahasanya ringan, ulasannya “kena” dan yang lebih menarik perhatian saya adalah kreatifitasnya dalam menganalisa hubungan antara kawin siri dengan dunia bisnis dan perbankan… 

have a nice reading…

Dewi Persik is Syariah, isn’t she?

by Wibawa Prasetyawan

Lokasi: nonton TV pagi hari

Di sela live report TV mengenai contreng mencontreng, nggak sengaja terselip informasi mengenai Dewi Persik yang jago nggoyang gergaji (gimana tuch goyangnya ya?)

Satu yang sangat menarik adalah pernyataan sang ratu goyang “saya menikah karena nafsu”. Disambung lagi “mending seperti saya, daripada orang pacaran sudah seperti menikah”

He he he… Salute!! Sebuah penelanjangan diri yang sangat berani.
Jadi intinya zina dan nggak adalah akad-nya, kalo dilakukan dengan instrumen agama maka urusan nafsu bisa menjadi halal dan malah berkerangka ibadah.

Saya teringat teman saya di Makasar yang berkata bahwa sistem syariah dan non syariah hanya terletak di akad-nya, somehow ada benarnya karena setelah dihitung-hitung perhitungan profit and lost-nya mirip.

Saya itu kanthong bolong soal agama, namun menurut saya, syariah itu intinya di partnership. Partnership ini adalah keterlibatan semua pihak untuk menjaga akad awal bisa berjalan dengan baik, saling menguntungkan dan tidak berbasis zero sum game. Makanya namanya bagi hasil bukan bunga/interest. Diperlukan komitmen kuat antara pemerintah, bank dan industri untuk terus menjaga involvement (keterlibatan) demi keselamatan semua pihak.
Keuntungan? Penting namun jangan bubbling sebab anything’s bubbling is empty inside. Jadi gampang meletus dan kempes kayak sekarang ini.
Pak harto menyebutnya “pembangunan berkelanjutan”

Saya pernah mengusulkan ke salah satu direksi utk membuat kartu kredit berbasis syariah, namun harus ada satu unit dahulu yang bernama “customer partnership” yang terus menerus mengingatkan nasabah bhw kartu kredit tersebut adalah instrument of payment (alat bayar) bukan instrument of financing (alat ngutang). Jadi cardholder tidak terjebak dalam bunga, dan basis profit kita dari fee based income (pendapatan dr fee transaksi)

Namun apa mau dikata, bottom line bisnis ini ditopang oleh bunga tinggi. Bahkan stated clearly by management bahwa akan terus meningkatkan high yield product (= product riba tinggi).

Kembali ke Dewi Persik, ada sebuah peluang bisnis yaitu membuka “jasa penghulu” di Dolly, the biggest sex supermarket at asia.
Jadi bila ada lelaki hidung belang mau menuntaskan hajatnya kita tawarkan utk nikah siri dulu, baru nafsu itu akan menjadi halal, setelah “transaksi” langsung kita ceraikan. Urusan selesai!! – jadi nggak ada partnership yang menjaga kesucian akad awal.
Nah bener khan bahwa syariah itu intinya partnership?

Business ini sudah dilakukan di Las Vegas (saya menyebutnya kota setan, krn saya melihat banyak setan di sana) dan makanya married in las vegas is so easy – namun memang nggak ada partnership!!

>>>>>>>>>>>>>>>>>> ….. dan yang lebih menariknya lagi, Dewi Persik dan Perbankan punya kesamaan yaitu sama-sama bisa meng-“GOYANG”dunia…. qkqkqkqkqkqk… 

Advertisements

Author:

i'm an ordinary mom & wife with ultraordinary love..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s