Posted in Architecture & Design

A little chat with BIANPOEN about Jakarta

Dalam rangka menyambut HUT Kota Jakarta, jadi inget artikel yang pernah diliput di Kompas, Minggu, 11/02/2007 (12).. wawancara dengan Bianpoen, arsitek tata kota dari Thailand (kalau gak salah) yang sangat peduli dan mengerti tentang sejarah tata kota Jakarta sejak jaman Belanda.. semoga bisa menjadi inspirasi kita bersama untuk menjaga dan tetap mencintai kota Jakarta

Jakarta krisis

Banjir awal tahun 2007 ini merupakan yang terbesar sejak zaman Belanda. Air menggenangi tempat-tempat yang tidak pernah kebanjiran dan berlangsung lebih dari sepekan. Banjir menelan banyak korban manusia dan rumah.

Jika diurai, banjir disebabkan tiga faktor utama yaitu sungai meluap, drainase tidak berfungsi dan daratan lebih rendah daripada laut.

Sungai meluap, kenapa?

Ada daerah aliran sungai (DAS), yaitu kawasan di pinggiran sungai dari hulu-hilir yang menampung air hujan dan menyalurkannya ke sungai. Kawasan itu mencapai puluhan, ratusan kilometer, bukan hanya bantaran sungai saja. DAS itu sekarang rusak karena dipenuhi bangunan. Saat masih alami, sekitar 95% -100% air hujan terserap dalam tanah. Sedikit sekali air yang masuk ke sungai. Setelah DAS rusak, sebagian besar air hujan masuk ke sungai dan sedikit yang terserap tanah.

Kawasan Puncak, Bogor ditetapkan sebagai daerah resapan air, sekarang diizinkan pembangunan villa yang marak 10 tahun terakhir.

Real estate baru punya dosa mengubah alam jadi lingkungan buatan. Perumahan merusak kapasitas penyerapan air hujan di dalam tanah. Itu berlangsung dan terus diizinkan. Yang salah bukan pengembang semata tapi pemerintah yang memberi izin.

Adakah kawasan yang disiapkan jadi daerah resapan air di Jakarta?

Ada daerah yang tidak boleh diubah fungsinya dan ditimbun untuk didirikan bangunan. Sawah tetap sawah, rawa tetap rawa. Rencana induk tata ruang 10 tahunan terus berubah dan kawasan hijau makin menyusut. Saat ini semuanya berubah sama sekali. Sekitar tahun 70an, Pantai Indah Kapuk dan Kelapa Gading berupa rawa dan sawah. Pantai Ancol juga rawa yang luasnya ribuan hektar yang berfungsi menampung air hujan. Dalam rencana induk awal, kawasan itu sengaja dibuat kosong tapi diubah jadi penuh bangunan.

Drainase tidak berfungsi, kenapa?

Drainase tidak bisa menampung hujan dan malah meluberkan air ke jalanan atau permukiman. Kapasitasnya kurang karena percepatan pembangunan permukiman tidak diikuti perubahan drainase.

Drainase tersumbat lumpur atau sampah akibat kurang pemeliharaan. Daerah Pantai Kapuk, saat kemarau masih ada air yang menggenang, diam, hitam, bau dan kotor.

Daratan Jakarta lebih rendah dari laut, mulai kapan diketahui?

Belanda sudah tahu daerah pantai di utara berada di bawah laut. Air dari utara ke selatan, sampai kira-kira Grogol hanya bisa mengalir ke laut saat kemarau dan laut surut. Kalau laut pasang atau hujan, air tidak bisa mengalir ke utara. Drainase dilakukan dengan membuat waduk yang menampung air dari daratan, lantas membuang dan memompanya ke laut. Itu system folder yang sekarang ada di Pluit dan Sunter, tapi sudah tidak cukup lagi.

Untuk mengantisipasi banjir, sebaiknya memfungsikan kembali DAS di hulu. Pembangunan di Puncak dihentikan dan bangunan yang menutupi DAS dibongkar. Lahan itu direhabilitasi dengan menanam pepohonan. Memperbaiki drainase di wilayah Jakarta agar bersih, kapasitas sesuai dan bisa mengalir ke laut. Perlu dibuat lagi waduk-waduk yang airnya dipompa ke laut.

Jakarta perlu meniru Belanda dalam mengelola air. Menyadari semua daratan di negeri itu berada di bawah laut, mereka membuat kanal-kanal yang sistematis, dilengkapi pompa untuk membuang air.

Belanda membangun Jakarta mirip Amsterdam dengan membangun kanal, seperti di kawasan Kota dan Mangga Besar. Belanda juga menggali banjir kanal barat agar mereka bisa menetap di Jakarta.

Tidak hanya mengandalkan Banjir Kanal timur (BKT), BKT hanya mengamankan Jakarta Timur dari luapan Sungai Cipinang dan Sunter, tetapi hujan tetap membanjiri daerah itu.  Masalahnya, drainase tidak berfungsi dan air tak bisa masuk ke laut karena daratannya lebih rendah.

Bagaimana menangani masyarakat di bantaran sungai?

Masalah bantaran sungai adalah masalah kemiskinan, masalah sosial, tidak bisa ditangani dengan fisik seperti membangun rumah susun.

Masalah utama, pembangunan terlalu menumpuk di Jakarta dan daerah di sekitarnya tertinggal. Itu memicu urbanisasi. Orang desa yang sulit hidup layak menyerbu Ibu kota demi kerja serabutan.

Daya dukung Kota Jakarta akhirnya tak mampu lagi melayani jutaan penududuknya. Timbul masalah kemacetan, kriminalitas, pengangguran, kesenjangan sosial, lingkungan rusak dan krisis air bersih. Warga Jakarta tidak punya rasa memiliki terhadap kota ini karena mereka datang untuk mencari nafkah bukan untuk tinggal.

Membangun dan menyebarkan kemakmuran hingga ke desa-desa. Masyarakat miskin dilatih dan diberi ketrampilan agar bisa bekerja mandiri.

Krisis air di Jakarta terlihat saat PDAM hanya mampu melayani sekitar 40% dari total penduduk. Saat kemarau kekeringan karena Jakarta tidak punya kawasan resapan air. Air hujan tidak meresap ke tanah tetap langsung masuk sungai dan keluar ke laut.

Pembangunan Kota Jakarta terlalu berorientasi pada pertumbuhan ekonomi. Rencana induk tata ruang membuka lebih dari 50% lahan yang diperuntukkan bagi pengembangan ekonomi. Masyarakat miskin didesak ke daerah pinggiran, kota hanya untuk orang kaya. Pendekatan itu hendaknya diubah dengan mengakomodasi masyarakat miskin untuk tinggal di sekitar sentra ekonomi, tempat mereka bekerja secara legal.

Masalah kemacetan semakin akut, kenapa?

Jakarta menganut prinsip tata ruang tunggal, yaitu memperuntukkan 1 kawasan tertentu untuk permukiman, perkantoran, industri, pemerintahan atau pendidikan. Masing-masing punya kawasan, akibatnya hubungan transportasi dari masing-masing kawasan memicu kemacetan. Sebaiknya kawasan didesain multiperuntukkan. Satu ruang boleh untuk kantor, perumahan, taman dan pasar sekaligus. Industri boleh, asal tidak mencemari.

Jakarta butuh transportasi umum yang tidak menggunakan jalan, tidak memakai bahan bakar yang merusak udara dan kapasitasnya besar dan massal atau mass rapid transit (MRT).

So, guys let’s make Jakarta a better city for your own damn good..Hmm…sounds good if we support “Bike to Work” campaign or “Bersih Jakarta”..don’t u think?

Advertisements

Author:

i'm an ordinary mom & wife with ultraordinary love..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s